DAERAH

Pesantren Dalwa Raci Pasuruan Berduka

Penapersatuan.com – Innalillahi wa inna illahi rojiun…. Hubbabah Khodijah binti Muhammad al-Hinduan istri pendiri  Pondok Pesantren Darul  Lughoh Wa ‘dakwah (Dalwa) Raci Pasuruan Jawa Timur berpulang pada Rabu (3/7).

Hubabah Khodijah, menurut Prof Dr.Muh Baharun,MA , Rektor Universitas Islam Pasundan (Pasim) Bandung Jawa Barat mengisahkan bahwa Hubabah Khodijah merupakan pendamping   suami tercinta (Ustadz Hasan Baharun) dalam duka, menghibur dan memotivasinya, sehingga bangkit dan menebar berjuta inspirasi.

Hal itu terlihat jelas dalam perjalanan hidup Abuya Ustadz Hasan Baharun (1934-1999) pendiri pesantren Dalwa di Jawa Timur (pejuang dan pendakwah Nahdhlatul Ulama) yang dibersamai istri tercinta Hubbabah Khodijah binti Muhammad al-Hinduan.

Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Ibrahimy Situbondo Prof Mohammad Baharun menuturkan bahwa Hababah Khodijah sosok yang membersamai dakwah Abuya Ustadz Hasan Baharun. Dia mengetahui betapa besar keikhlasan almaghfur laha mendukung sang suami tercinta berdakwah hingga ke pedalaman.

Pasangan yang sama-sama dzuriyat Nabi Muhammad SAW tersebut menikah pada 1971. Setelah itu keduanya bukan berbulan madu seperti pasangan muda saat ini. Keduanya berangkat ke pedalaman Kalimantan Barat. Di tanah rantau tersebut, sang istri mendukung sang suami tercinta mendakwahkan kearifan Islam kepada masyarakat pedalaman.

Juga selalu memberikan segala apa yang dimiliki, lahir dan batin, materi dan motivasi, kepada sang suami untuk mewujudkan cita-cita berdakwah dan mendidik masyarakat. “Beliau, almarhumah ini adalah pendamping yang baik Ustadz Hasan Baharun, pendiri Darul Lughah wad Da’wah (DALWA) Bangil,” kata Prof Mohammad Baharun.

Jenazah Hubabah Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan telah menjalani prosesi pemakaman pada Rabu  (3/7/2024) tujuh hari yang lalu. Almarhumah  wafat sekitar pukul 09.30 WIB, saat dirawat di RS PHC (Primasatya Husada Citra) Surabaya.

Saat azan Zuhur berkumandang jenazah Hubabah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan sampai di Ponpes Dalwa dikawal oleh Polda Jatim dan Polres Pasuruan, dengan isak tangis kesedihan para santri Dalwa menyambutnya.

“La ila ha illallah, la ila ha illallah, la ila ha illallah Muhammadur Rasulullah.” terdengar menggema di langit Raci saat jenazah Hubabah memasuki komplek pesantren diantar mobil ambulan PHC Dalwa. Wajah sendu dan bergelimang air mata tak terelakan oleh para santri yang melihatnya. Nyata bukan hanya berita, ibunda sudah tiada.

Jenazah Hubabah diantarkan langsung ke kediaman beliau untuk dimandikan dan dikafani. Pemandangan haru yang serupa tampak pada para petakziah dan keluarga Hubabah yang sudah menunggu di kediaman. Selama prosesi pemandian, para petakziah di luar menghadiahkan bacaan Al-Qur’an untuk Hubabah.

Sedang para santri demikian, memanjatkan doa dan bacaan Al-Qur’an di Masjid Baitul Ghoffar usai sholat Dzuhur berjamaah, hadiah khusus untuk Hubabah. Semoga Hubabah bahagia menerimanya.
 
Hubabah akan disholati  dan dimakamkan setelah sholat magrib, di samping pusara sang suami, Abuya Hasan Baharun. Tepatnya di sebelah timur pusara Abuya. Penempatan itu atas panduan dari Habib Ahmad Ba’aqil. Santri ikut bergotong royong memepersiapkan peristirahatan terakhir ibunda.

Memindahkan tanah galian ke luar area makam, mempersiapkan tempat untuk pelaksanaan sholat jenazah, tak terpikirkan kotor dan letih mereka mengerjakannya.

Santri Dalwa 2 dan 3 pun datang ke Dalwa pusat, kaget mendengar kabar ibunda wafat. Mungkin mereka belum begitu paham situasinya, tetapi mereka tahu Hubabah telah tiada.

Menjelang azan Magrib berkumandang, ribuan petakziah sudah mulai memasuki lapangan untuk ikut sholat Magrib berjamaah. Setelah sholat Magrib, jenazah Hubabah diantarkan ke lapangan dengan dikawal ketat oleh polisi. Di sana lah Hubabah akan disholatkan.

Suasana ramai dengan lantunan kalimat tahlil, ditambah lagi antusiasme para petakziah hingga saling berdesakan untuk bisa menyentuh keranda jenazah Hubabah. Mengharap berkah.

Sesampainya jenazah di lapangan Ponpes Dalwa, polisi dan juga panitia keamanan langsung mengkondusifkan tempat dilaksanakannya sholat jenazah. Abuya Zein Baharun ketika itu mengomando langsung untuk merapihkan barisan para jamaah. Barisan terdepan Abuya Zein khususkan untuk para habaib dan kiai sepuh. Adapun para jamaah lainnya bisa mengkuti dibelakangnya.

”Minta dengan hormat, untuk mundur sedikit, mundur lima langkah, ada habaib dan kiai yang sepuh,” arah Abuya.

Untuk para santri hanya bisa ikut menyaksikan lewat TV tron dari masjid Baitul Ghoffar. ”Semua tholabah (santri) di masjid ya, gak ada yang di lapangan,” tegas beliau.

Rangkaian prosesi pemakaman tersebut dimulai dengan pembacaan surah Al-Fatihah, Yasin dan juga pembacaan tahlil oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad kemudian doa oleh Habib Sholeh Al-Idrus.

Lalu dilanjut sambutan-sambutan yang dipersilahkan oleh Abuya Zein kepada Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf selaku Ketua Rabithah Alawiyah, lalu K.H. Ustaz Qoimuddin yang pernikahannya pernah diurusi oleh Hubabah, kemudian Dr. Habib Segaf Baharun M.H.I. selaku perwakilan dari putra-putri Hubabah.

Mereka saling menceritakan kisah-kisah teladan Hubabah yang pernah mereka saksikan langsung selama hidupnya. Rasa pilu terlihat dari mereka saat menyampaikan betapa teladannya sosok beliau tersebut. Tangis sendu tak terbendung menumpahkan air mata Habib Segaf Baharun saat mengisahkan kesaksian harunya terhadap ibundanya.

Usai sambutan, Abuya Zein Baharun meminta doa untuk ibundanya kepada Habib Abu Bakar bin Ali Assegaf, Habib Umar bin Abdullah Assegaf, Habib Ahmad bin Syaikh Assegaf dan K.H. Ihya Ulumuddin secara bergantian. Kemudian berlanjut dengan sholat jenazah yang diimami oleh Abuya Zein Baharun, putra sulung Hubabah atas wasiat juga permintaan dari keluarga Hubabah Khadijah.

”Karena ada wasiat dan permintaan keluarga, maka dengan segala rendah hati, ana yang diminta untuk sholat selaku imam sholat jenazah,” ungkap Abuya Zein.

Doa salat jenazah dibacakan oleh Habib Ahmad Al-Haddad sesuai permintaan Abuya Zein. ”Setelah salat, saya minta Habib Ahmad Al-Haddad yang baca doanya,” pinta beliau.

Seusai disholati, jenazah diantarkan ke makam untuk proses penguburan. Sebab antusiasme para jamaah sempat terjadi desakan untuk berebut bisa masuk ke makam, situasi ini pun langsung ditangani oleh pengawal dan polisi.

Pintu ruang makam Hubabah ditutup rapat sebab proses penguburan dilaksanakan secara tertutup. Hal itu disebabkan karena hanya beberapa pihak tertentu yang boleh memasukinya. Pihak media pun tidak diperkenankan masuk untuk mendokumentasikan.

Sebagai informasi, untuk pembacaan tahlil dilaksanakan selama tujuh malam dimulai pada Rabu malam, malam pemakaman sampai Selasa (9/7) malam  di lapangan utama Ponpes Dalwa, Raci Pasuruan Jawa Timur.

Dalam takziyah Tahlil, Habib Jindan bin Novel bin Salim Ahmad Jindan , Pengasuh Pondok Pesantren Al Fachriyah ,Tangerang Banten menyampaikan kekaguman dengan perjuangan Hubabah Khodijah,”Mudah-mudahan Alloh SWT mengangkat derajat almarhum yang telah menghabiskan hidup dan perjuangan untuk dakwah. Almarhum ha telah termasuk golongan imam mustarih (beristirahat). “Dimana, mustarih (beristirahat) dari penat dan sumpeknya dunia,” kata Habib Jindan dengan nada menyejukan  di hadapan ribuan santri, alumni dan mu’aziyin yang memadati acara Tahlil bersama di  Ponpes Dalwa, Raci, Pasuruan.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *