NASIONAL

Haul ke-5 Mbah Maemun di Berbagai Daerah, Jamaah Tumpek Blek                        

Penapersatuan.com – Rabu malam(5/6), bertepatan iadakan haul Mbah Maemun Zuubair. Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak pukul 15.00 WIB.

Informasi yang diterima santri dan masyarakat tumpah ruah di sekitar Ponpes Al Anwar Sarang.Berdasarkan rundown acara yang diterima  dari santri yang bertugas di keluarga Pengasuh Ponpes Al Anwar, acara selepas Shalat Isya  diawali dengan pembacaan Maulid Diba’ .

Sedangkan sambutan atas nama Pengasuh Ponpes Al Anwar   disampaikan oleh KH Wafi Maemoen Zubair.

Pada awal Mei juga digelar Haul Mbah Maemun di kediaman KH Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) dengan acara Bahsul Masail bersama Gus Reza (Kediri).

Sabtu siang di Mala Mekah juga digelar Haul KH Maemun Zubair yan menghadirkan pembicara Habib Novel Alaydrus Solo dan Habib Jindan bin Novel Salim Ahmad Jindan.Acara ini juga dihadiri oleh Wamenag RI, Saiful Rahmat Dasuki.

Habib  Sedangkan  dari pihak keluarga yakni KH Najih Maemun Zubair , KH Taj Yasin , KH Ubaidillah Maemun Zubair dan jamaah yang berkesempatan hadir di kota Mekkah.

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus (Solo) menyampaikan tentang pentingnya cinta kepada Alloh dan para kelasih-Nya. “Alhamdulillah, hari ini kita berkumpul di kota Mekkah, kota yang penuh Barokah. Untuk mengenang guru kita yakni KH Maemun Zubair, “ buka Habib Novel.

Kisah mencintai Alloh dan Rasul-Nya serta kekasih-Nya,  seperti kisah seorang ibu kepada anaknya.”Seperti kasih sayang ibu dalam membersihkan kotoran anaknya, “ ungkap Habib Novel.

Demikian juga dalam mencintai Alloh, Rasulullah dan para kekasih-Nya. Seperti kisah seorang sahabat yang bertanya tentang kecintaan kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah menjawab, “engkau akan bersama orang kau cintai.” Demikian pun dengan mencintai para kekasih Alloh, maka tentu akan sama dicintai oleh Alloh SWT.

Sahabat Anas ra tentang kecintaan seorang Badui  kepada Rasulullah SAW. 

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw. Dengan memanggil namanya , Ya Muhammad ..” dengan suara keras dan kasar namun Rasululah SAW adalah seorang yang sayang dan penyabar.

Arab badui itu bertanya mengenai hari kiamat. Beliau berkata : “Apa yang kamu persiapkan untuk hari kiamat?” 

Laki-laki berkata : “Aku tidak menyiapkan apa-apa kecuali rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya Saw.” 

Lalu Nabi bersabda : “Engkau akan dihimpun bersama orang yang engkau cintai.”

Anas berkata ,”Maka tidak ada perasaan bahagia melebihi bahagia karena ucapan Nabi Saw. “Engkau akan dihimpun bersama orang yang engkau cintai.” 

Kembali Anas berkata : “Karena Aku mencintai Nabi Saw. dan Abu bakar dan Umar. Dan aku berharap akan dikumpulkan bersama mereka sebab rasa cintaku kepada mereka meskipun aku tak bisa beramal sebagaimana mereka.”

Sementara Habib Jindan bin Novel Salim Jindan (Al Fahriyyah , Larangan , Ciledug, Tangerang -Banten yang menyampaikan tentang keutamaan Kota Mekkah dan Madinah. ‘Alhamdulilah kita hadir di kota Mekkah yang dicintai Rasulullah SAW. Kota yang penuh cinta, “ buka Habib Jindan.

Habib Jindan kemudian berkisah tentang kecintaannya kepada kota Mekkah.”Demi Alloh, wahai Mekkah…Mekkah adalah tempat yang paling aku cintai, “ kata Rasululoh SAW. 

Ini dibuktikan dengan kecintaan Rasululkah selama 15 tahun hidup di kota Mekkah walaupun Rasul SAW diganggu, namun Nabi SAW menerima dengan penuh kesabaran.

Demikian juga tentang kemuliaan kota Madinah. Madinah dan Mekkah juga merupakan kota yang dicintai Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah kita berada di tempat yang dicintai Rasululloh SAW. Hari ini kita berkumpul untuk memperingati wafatnya Ulama (haul) di mana beliau di makamkan (Ma’la) dan juga tempat makam Sayidatuna Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW.”

Wamenav RI, H Saiful Rahmat Dasuki menyatakan kegembiraannya bisa hadir haul Mbah Maemun ke 5. “Alhamdulillah, kemarin (13/6)  saya berkesempatan menghadiri acara Haul ke-5 Alm. KH. Maimoen Zubair di Aula Daker Makkah. Haul ini dihadiri oleh banyak teman teman ulama, seperti KH. Abdullah Ubab Maimun, KH. Najih Maimun, KH. Taj Yasin Maimun, KH. Anig Muhammadun, Habib Luthfi Al Attus, KH. Prof. Nour Ahmad, dan Kadaker Makkah Dr. Khalilurrahman. Kami semua turut mendoakan Alm. KH. Maimoen Zubair dan menyampaikan tausiyah yang penuh hikmah,” buka Wamenag RI.

Setelah acara Haul selesai, saya bergeser untuk menghadiri undangan pertemuan dengan Menteri Haji Arab Saudi. Pertemuan ini dihadiri oleh Dirjen PHU bapak @hilmanlatief, Sekjen Kemenag RI bapak Prof. Muhammad Ali Ramdani S. TP, M.T, Direktur Layanan Haji Luar Negeri PHU bapak Subhan Cholid, dan beberapa pejabat lainnya. Kami membahas berbagai hal terkait penyelenggaraan haji, termasuk upaya untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi para jemaah haji Indonesia.

“Saya bersyukur atas kesempatan ini dan semoga dapat terus berkontribusi dalam memajukan umat Islam dan khususnya dalam penyelenggaraan haji yang lebih baik, “ pungkas H Saiful Dasuki , Ahad 16 Juni 2024.

Sementara di Kab Rembang  Jawa Tengah, malam   minggu ini (semalam) juga digelar sholawatan bersama Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf dan Dr.KH Abdul Ghofur Maemun Zubair.

Mbah Moen

Ulama sepuh ini sangat teguh dalam berpendirian, tapi di sisi lain ia juga sangat menghargai perbedaan.

Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah, dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.

Dalam forum seperti itu, Pondok Pesantren Al-Anwar (di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah) sangat disegani. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah K.H. Maimoen Zoebair.

Meski sudah sangat sepuh, 78 tahun, alumnus Ma’had Syaikh Yasin Al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da subuh dan ashar, Mbah Maimoen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.

Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.

Ia memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren, dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah, dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.

Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU dan PPP, yang sowan minta fatwa politik, nasihat, atau sekadar silaturahmi. Ia memang salah seorang sesepuh warga nahdliyin yang bernaung di bawah partai berlambang Ka’bah itu.

Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa di antara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti K.H. Habib Abdullah Zaki bin Syaikh Al-Kaff (Bandung), K.H. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), K.H. Hafidz (Mojokerto), K.H. Hamzah Ibrahim, K.H. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), K.H. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), dan masih banyak lagi.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam berdakwah saat ini ialah mengembalikan umat kepada agama, tanpa membedakan-bedakan golongan atau partai. Dengan nada suara yang sejuk, ia menyampaikan nasihat bahwa mayoritas bangsa kita beragama Islam, dan tidak bisa ditekan atau digiring dalam satu partai. Partai boleh berbeda, tapi harus saling menghargai. Dari rahim keragaman inilah akan lahir kekuatan besar untuk mengatasi persoalan bangsa sekarang ini.

Di PPP, Mbah Moen menempati posisi sebagai Ketua Majelis Syariah yang diembannya sejak 2004 hingga wafatnya. Pada 6 Agustus 2019, Sang Kiai karismatik yang amat berpengalaman di ranah politik ini mengembuskan nafas terakhir dengan tenang di Makkah. Jenazah Kiai Haji Maimun Zubair dikebumikan di tanah suci, berdampingan dengan pusara guru-gurunya terdahulu, serta berada satu kompleks dengan makam istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah.

Oleh: Aji Setiawan, Mantan Wartawan Majalah AlKisah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *