DAERAH

Haul Kyai Ageng Muhammad Besari ke-277, Gelaran Tradisi Hampir 3 Abad

Ponorogo, penapersatuan.com – Haul Kyai Ageng Muhammad Besari ke-277 resmi  digelar pada tanggal 17 – 20 Mei 2024.

Perhelatan Haul Kyai Ageng Muhammad Besari digelar dengan nuansa Tegalsari yang begitu kental setiap tahunnya, mengingat sudah tiga abad beliau wafat.

Di tengah semilir angin yang membawa aroma tanah yang subur, sebuah perhelatan besar kembali digelar di desa Tegalsari, Ponorogo. Berbagai pentas Seni tradisional digelar mulai dari Karnaval Desa, Seni Reog, Tabligh Akbar, Sholawatan dan Acara haul ditutup dengan Tahlil Akbar dan Ambengan.

Haul Kyai Ageng Muhammad Besari yang ke-277 mulai tanggal 17 – 20 mei 2024, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama hampir tiga abad sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh penyebar Islam di tanah Jawa. Dengan nuansa Tegalsari yang kental, peringatan ini tidak hanya merupakan acara tahunan, namun juga momen bagi masyarakat untuk bersinergi dan mempererat tali kekeluargaan. 

Kepala Desa Tegalsari, Khoirul Huda, mengungkapkan harapannya agar perhelatan ini dapat meningkatkan keharmonisan masyarakat Tegalsari dan seluruh elemen penopangnya, termasuk pemerintah desa, dzuriyah Tegalsari, dan yayasan yang terlibat. “Tegalsari, yang telah menjadi warisan kolektif, tidak hanya berarti bagi dzuriyah, tetapi juga bagi umat Islam di seluruh Indonesia”, jelas Khirul Huda. 

Patut diakui Desa Tegalsari kini menjadi desa wisata  budaya  dan religi , warisan bagi semua orang, tidak terbatas pada mereka yang memiliki nasab atau sanad, tetapi juga bagi mereka yang baru mengenal Tegalsari. 

“Banyak ilmu telah lahir dari Tegalsari, mulai dari eyang Muhammad Besari hingga keturunannya. Budaya yang ditinggalkan, jika dipelajari dan diimplementasikan dalam kehidupan, akan sangat bermanfaat”, ungkap Dias salah satu keturunan Ki Ageng Muhammad Besari.

 Dias berharap bahwa ke depannya, acara Haul dan kegiatan lain di Tegalsari dapat ditambahkan dengan seminar, diskusi, atau dialog budaya yang membahas keilmuan yang ada di pesantren Gebang Tinatar. 

Tujuannya adalah agar khazanah ilmu Tegalsari tidak hilang dan terus berkembang. Hamdan Rifai, ketua Yayasan yang terlibat dalam pelaksanaan Haul, melalui wawancara via WhatsApp, menyampaikan harapan bahwa perhelatan ini akan membawa dampak positif bagi semua pihak. 

Menurutnya, acara Haul dapat merefresh ingatan generasi saat ini akan perjuangan Kyai Ageng Muhammad Besari dalam menyebarkan Islam dan membangun tatanan kehidupan di Tegalsari. Selain itu, upaya melestarikan dan mengangkat kembali tradisi serta ajaran-ajaran beliau diharapkan dapat dikenal, diteliti, dan dilaksanakan kembali oleh generasi sekarang. Tegalsari diharapkan dapat bangkit sebagai pusat belajar dan pengajaran ilmu-ilmu keislaman, mempertahankan dan mengembangkan warisan yang telah ada. Dengan demikian, Haul Kyai Ageng Muhammad Besari tidak hanya menjadi seremonial tahunan, melainkan juga sebagai momentum untuk memperkuat identitas, tradisi, dan pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. 

Sementara itu, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo  mendukung penuh kegiatan Haul Kyai Ageng Muhammad Besari.

“Kami mendukung sepenuhnya Haul Kyai Ageng Muhammad Besari yang sudah terlaksana dari tahun ke tahun. Dan kami juga selalu mensupport penuh kegiatan tersebut,” ucap Disbudparpora dalam sambutannya dalam acara bersih desa di Tegalsari.

Rangkaian Haul Kyai Ageng Muhammad Besari ke-277, antara lain :

– Manggulan di Masjid Baiturrahman, Dukuh Setono, Tegalsari (Jumat, 17 Mei 2024) malam.

– Manaqib Kubro bersama KH. Imam Suyono PP al-Barokah di halaman MTs/MA Ronggowarsito, Tegalsari (Sabtu, 18 Mei 2024) malam.

– Kirab Budaya Tegalsari di Masjid Baiturrahman, Setono hingga Masjid Jami’ Tegalsari (Ahad, 19 Mei 2024) siang.Ponorogo-Haul Kyai Ageng Muhammad Besari ke-277 resmi  digelar pada tanggal 17 – 20 Mei

– Tegalsari Bersholawat bersama Cak Fandy Irawan dan Ahbabul Musthofa Madiun di halaman MTs/MA Ronggowarsito, Tegalsari (Ahad, 19 Mei 2024) malam.

– Majelis Simaan al-Qur’an JQH Jamiatu Qura’ wal Khufafz di Masjid, Musholla dan rumah masyarakat Desa Tegalsari (Senin, 20 Mei 2024).

Manakib

Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari merupakan pendiri pesantren Gebang Tinatar atau Tegalsari. Pesantren ini berada di di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.

Hasan Besari lahir sekitar tahun 1760-an. Beliau keturunan dari Pendiri Kerajaan Majapahit dan Ibunya dari Baginda Rasulullah, dari jalur Ayah (Kiai R. Nedo Kusumo), Kiai Ageng merupakan keturunan ke-31 dari pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya.

Sedangkan dari garis keturunan Ibu (Nyai Anom Besari), nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw keturunan ke-48 melalui garis Sayyidati Fatimah Az-Zahro.

Ia adalah cucu pendiri Pesantren Tegalsari, Kiai Ageng Muhammad Besari (wafat 1773). Ayahnya adalah Kiai Ilyas (wafat 1800) yang melanjutkan kepemimpinan pesantren pasca wafatnya sang pendiri.

Menghabiskan masa mudanya berguru kepada ayah dan kakeknya sebelum akhirnya memegang tampuk kepemimpinan pesantren mulai tahun 1800 hingga wafatnya.

Selama nyantri sama kekeknya, Kiai Hasan Besari satu seperguruan dengan pujangga kenamaan  Yasadipura II (wafat 1844).

Kasan Besari tidak disenangi oleh Pemerintahan Belanda, baik VOC maupun setelah berubah menjadi Pemerintahan Hindia Belanda. Kasan Besari berusaha untuk menegakkan hukum Islam di Tegalsari, yang merupakan desa perdikan. Penegakan hukum Islam tersebut bertujuan untuk menciptakan masyarakat lebih tertib, aman, dan lancar. 

Namun demikian, tindak tegas ini mengandung resiko karena bermunculan kelompok-kelompok masyarakat yang kurang senang. Pemerintahan Hindia Belanda menyatakan bahwa tindakan Kasan Besari adalah salah dan bertentangan dengan hukum yang berlaku. Kemudian Kasan Besari dituduh sebagai pembangkang dan suka main hakim sendiri.

Paku Buwono IV (1788-1820) yang sudah termakan hasutan Pemerintah Belanda, memanggil dan menghukum Kasan karena dianggap melanggar aturan. Kasan Besari ditahan di penjara Surakarta untuk sementara waktu. 

Pemerintah memutuskan Kasan Besari akan dihukum selong atau dibuang atau diasingkan ke luar daerah. Rencananya Kasan Besari akan dibuang ke luar Jawa tapi anehnya setiap kapal yang akan membawanya berlayar dari Batavia a tidak bisa jalan begitu ia naik. Hal tersebut terjadi berulang-ulang.

Murid-murid atau santri Kasan Besari juga melakukan protes dan meminta pembebasan untuk Kasan Besari yang menurut mereka tidak bersalah.

Akhirnya Kasan Besari kembali ditahan di Keraton Surakarta tapi ditempatkan di masjid. Diceritakan, suatu saat, Keraton mengadakan sholawatan. Kiai Kasan Besari ditunjuk sebagai imam. 

Suaranya membuat Paku Buwono IV, yang terkenal dengan bukunya Wulanggreh, terpikat kepadanya. Kasan Besari bukan hanya dibebaskan, tapi juga dikawinkan dan  diambil menenatu oleh Paku Buwono IV. Ia dinikahkan dengan Raden Ayu Cokrowioto, kemenakan Susuhan.

Setelah itu Kasan Besari memboyong istrinya yang putri Keraton itu ke Tegalsari. Salah satu sumbangan istri Sang Kiai adalah masuknya ilmu keterampilan membatik ke dalam pesantren. Waktu itu seni membatik baru terbatas dalam kehidupan keraton. 

Ketika sang istri beserta pengiringnya dari istana memperkenalkan batik, para santri pun – terutama santri-santri putri – ikut belajar membatik, sehingga menjadi bagian dari ilmu yang dipejari di Pesantren Tegalsari.

Sejak itu masyarakat Ponorogo pun merasakan dampak yang besar yang diberikan keterampilan batik ini bagi kehidupan perekonomian mereka.

sosok Kiai Ageng Hasan Besari pandai dalam berbagai keilmuan, di antaranya agama (tasawuf), ketatanegaraan, strategi perang dan kesusastraan sehingga beliau dikenal banyak orang dari penjuru Nusantara, mereka h-duyun menimba ilmu kepadanya.

Kiai Hasan Besari melahirkan tokoh-tokoh, pertama Pakubuwana II, Sultan Kartasura yang berkancah dalam dunia politik. Kedua, Bagus Burhan atau Raden Ngabehi Ronggowarsito, sastrawan Jawa yang menciptakan kidung Zaman Edan. Dan ketiga, H.O.S Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional pendiri Sarikat Islam.

Kemudian ketiga tokoh ini menginspirasi sang Proklamator, Ir.Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak lepas dari itu, keilmuan Kyai Ageng Hasan Besari juga sampai pada KH. Hasyim Asy’ari. Adabul Alim wal Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari masih ada keterkaitan dengan Krama Negara karya Kyai Ageng Hasan Besari, yang keduanya bermuara pada Kitab Silakrama karya Empu Prapanca.

Kyai Ageng Hasan Besari wafat pada 12 Selo 1165 H (1747 M), dimakamkan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Makamnya menjadi wisata religi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah, terutama saat malam Jumat

Selepas Kiai Kasan Besari wafat Pesantren Tegalsari lambat laun mengalami kemunduran sebelum akhirnya punah.

Namun, di antara anak turun Kiai Kasan Besari, ada yang membuka pesantren baru sebagai pengembangan dari Pesantren Tegalsari di daerah Gontor, Ponorogo. 

Pesantren yang bermula bercorak salafiyah sebagaimana pesantren induknya ini, kemudian dikembangkan oleh tiga bersaudara, yang keseluruhannya merupakan keturunan Kasan Besari, yaitu Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasy. Itulah Pondok Moderen Gontor Ponoroga yang masyhur itu. Salah satu keturunan Kiai Hasan Besari menjadi dai kondang   Miftah Habiburohman (Gus Miftah) Pengasuh Ponpes Ora Aji (Bantul , Yogyakarta).

Puncak acara Haul Ki Ageng Muhammad Besari ke 277 ditutup dengan Tahlil Kubro dan Ambengan di makam Kyai Ageng Muhammad Besari dan Masjid Jami’ Tegalsari (Senin, 20 Mei 2024) malam.

“Kami mengharap kedatangannya pada seluruh rangkaian haul Kyai Ageng Muhammad Besari, Tegalsari yang ke-277,” pungkas Muh. Riyono (Ketua Ta’mir Masjid Jami’ Tegalsari).

 (Aji Setiawan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *