KOLOM

Hikmah Hidup Bahagia

Oleh: Aji Setiawan

Dalam mengarungi bahtera kehidupan dui aini,manusia selama nya tidak akan pernah terlepas dari suka  dan duka. Disamping pesona dan gemerlap kehidupan dunia yang diberikan Allah SWT kepada manusia, tampaknya tiada seorang pun  juga  terbebas dari penderitaan , dari tekanan  dan  kepahitan hidup.

Kiranya sudah menjadi tabiat  manusia yang  penuh keluh kesah manakala tertimpa musibah, kesengsaraan dan  kufur nikmat kepada Allah. Ingatlah isyarat Allah dalam QS Az-Zumar 49: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia berseru meminta tolong kepada Kami, dan kami berikan kepadanya kenikmatan, ia pun berkata, sesungguhnya aku memperoleh kenikmatan ini semata-mata karena kepintaranku.”

Sebenarnya kalau kita merenungkan sejenak segala sesuatu yang kita miliki dalam hidup ini adalah semata-mata anugrah dan pemberian Allah SWT. Udara yang kita hirup setiap hari, Matahari yang  memberikan kehidupan bagi tanaman yang kelak hasilnya kita makan, kemampuan kita untuk berfikir dan melakukan segala sesuatu , rizki lahir dan batin, bahkan iman dan taufik yang tertanam di dada kita semua Anugrah dari Yang Maha Kuasa.

Lihatlah peringatan Allah SWT dalam QS Az Zumar 21:”Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering, lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan,kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang mempunyai akal.”
Hidup di alam dunia ini ada suka,ada duka, dengan tawa ria bahkan air mata. Adapun sisi-sisi kehidupan yang dihiasi dengan suka cita dan derai kebahagiaan kiranya tidak menjadi pokok bahasan,karena ia senantiasa menjadi tujuan yang kita idam-idamkan, karena akan membuat kita merasa bahagia.

Namun bagaimana dengan sisi kehidupan yang lain, sisi hidup yang masih terkungkung oleh duka dan air mata? Bukankah setiap dari kita senantiasa ingin terlepas dari ini semua? Stres, rasa putus asa, depresi dan segala macam nista, bukankah kita ingin semua melepaskan diri dari belenggu kesusahan kehidupan?

Pada dasarnya manusia dapat menjaga dan melindungi dirinya dari pengaruh-pengaruh tekanan kehidupan dan dampak kepedihan yang menimpanya. Orang-orang Barat dengan segala macam pencapaian ilmu dan teknologi memandang segala bentuk gangguan kesehatan berdasar analisis nyata yang bersifat materi.

Berbeda dengan seorang muslim, ada sesuatu yang lebih penting dan signifikan dari pandangan orang Barat, yakni iman yang senantiasa menjadi benteng dan periasai yang kokoh dari interfensi musibah dan penderitaan.

Seorang mukmin meyakini bahwa musibah adalah ujian, sebagaimana Hadis Rasulullah SAW:”Setiap kesengsaraan yang ditaqdirkan bagi seseorang tidak dimaksudkan untuk menyalahkannya dan setiap kesalahan yang ditimpakan kepada seseorang bukan berarti untuk menyengsarakannya.(HR Tirmidzi).

Kita sering lupa bahwa penyebab keresahan dan kegalauan hidup adalah ketidakpandaian kita menerima porsi yang ditentukan Allah (Ridha). Kita seolah ingin “berunjuk rasa”  terhadap ketentuan-ketentuan hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Di samping Ridha dengan keputusan Allah SWT, seorang mukmin dapat meraih ketenangan jiwa dengan penuh berserah diri dan kekhusyuan kepada Allah melalui shalat. Ingatlah ketika Rasulullah SAW memerintahkan Bilal agar menenangkan dirinya dengan sholat, beliau bersabda, ”wahai Bilal, istirahatkan dan tenangkanlah kami dengan sholat.” (Musnad Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika ditimpa suatu musibah, Rasulullah SAW bergegas melakukan shalat.

Kebahagiaan bukanlah berarti terlepas dari masalah dan kesulitan yang berkepanjangan. Kebahagiaan jiwa adalah kemampuan seseorang dalam menghadapi segala macam tekanan-tekanan hidup dengan penuh percaya diri, percaya akan kemampuan yang dimilikinya, sabar disertai tawakal kepada Allah SWT.

Sumber ketentraman yang berada di dalam setiap hati tentu berkaitan dengan kadar keimanan dan kemaksiatan seseorang. Allah SWT berfirman,”Dan barang siapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit, dan kami bangkitkan ia kelak pada hari kiamat dalam keadaan buta.(QS Toha: 124).

Jelaslah bahwa sumber ketenangan hati dan ketentraman jiwa terletak di dalam dada (hati), maka jalan meraih ketenangan hati itu adalah sikap-sikap nurani dalam menerima pemberian Allah SWT atau ridha  dengan ketentuan –Nya melalui jalan pendekatan diri kepada Allah melalui shalat dan dzikir, sebagaimana firman-Nya: “Ketahuilah bahwa dengan zikir kepada Allah , hati akan menjadi tenang.” (QS Ali Imran; 38).

Mari kita gapai ketenangan dan ketentraman jiwa dengan senantiasa menerima porsi yang diberikan Allah dengan jalan meningkatkan kualitas dan kuantitas shalat kita dan memperbanyak dzikir kepada Sang Maha Pencipta. Adakah janji yang lebih ditepati dari pada Janji Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *