KOLOM

Hari-hari yang Makin Terbelah

Oleh: Aji Setiawan, ST

Betapa hancur berkeping-keping hati saya ketika ruang berbeda membuat tercerai berai persatuan dan kesatuan kita sesama anak bangsa.

Perlu sejenak kita rehat.Mendinginkan kepala dan riuh gegap gempita ruang dan masa kampanye yang semakin berlari dengan cepatnya.

Kita tidak sanggup melipat waktu. Hari-hari kemarin menjadi masa lalu, hari-hari sekarang menjadi masa kini dan masa mendatang menjadi masa mendatang.

Apa yang akan terjadi di masa depan dan mendatang, tidak ada satupun ramalan (forecast) manusia yang tepat dan paling mungkin hanya mendekati ambang kebenaran.

Tidak bisa realita sepihak apalagi rangkuman realitas bentukan media menjadi satu-satunya jalan untuk meraih tampuk kuasa. Itu hanya akan menjadi klaim kebenaran belaka (claim of truth).

Realitas media hari-hari ini penuh sesak dengan informasi yang jauh dari sempurna. Masa pandemi dan erupsi digital membuat dunia harus sat-set, kerja cepat, tepat (solutif) dan tuntas.

Tentu para awak media, Tengah berfikir keras bagaimana helatan pesta demokrasi kali ini perlu mendapat perhatian secara seksama dan serius. Sehingga kondisi pertarungan para konstetan kandidat dan peserta pemilu bisa berjalan aman , damai, dan bermartabat.

Itu semua akan kembali penuh dukungan kepada KPU untuk tegas dan tidak berpihak demikian juga pers, banwaslu, TNII dan Polri agar tidak bisa dibeli. Ini adalah tugas dan misi suci dengan gotong royong dan kesadaran bersama untuk meletakkan puncak mahkota demokrasi ke tampuk kekuasaan bisa diantar dengan lancar dan tepat waktu.Sehingga muara dari hukum pikuk pesta ini adalah adilnya kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Maka seburuk apa pun hasil pemilu, nantinya bisa diterima semua pihak.
Demikian pula dengan demokrasi saling dukung mendukung untuk tidak memaksakan diri menang-menangan semau sendiri dengan melanggar aturan dan etika.

Ruang pesta demokrasi yang kita nikmati hari-hari ini patut kita syukuri dengan penuh ruang kegembiraan. Pebedaan itu biasa, lumrah dan fitrah. Tidak bisa dipungkiri dalam hati nurani serta sanubari masing-masing pasti sudah punya pilihan yang dijamin rahasia oleh Undang-Undang Pemilu.

Maka dipastikan dalam Pesta demokrasi sekarang kita menyaksikan tiga rombongan besar (Anis-Muhaimin), (Prabowo-Gibran) dan (Gsnjar-Mahfud).

Suka atau tidak suka kita harus memilih dengan kriteria yang objektif dan rasional. Bahkan dalam berbagai isu harus tahu apa yang sedang dipebincangkan di atas panggung politik serta yang tak kalah penting mampu mendengar suara publik.

Karena apa? Tidak mungkin setiap hari harus menyajikan jawaban seketika dengan kemampuan terbatas sementara kebutuhan masyarakat semakin luas sementara pasokan dan amunisi tengah dalam kondisi yang pas-pasan saja.

Bila soal memilih itu hak masing-masing tidak ada yg bisa memaksakan diri dan kehendak. Kesadaran dalam ruang berbeda sekarang menikmati iklim demokrasi dengan penuh ketenangan, kegembiraan dan penting meredakan konflik berkepanjangan.

Aturan kampanye sampe pemilihan semog aman tertib dan lancar. Biaya pemilu kali 100 Trilyun lebih, saya kadung basah ke ecemplung dengan banyak pihak. Semoga akal sehat, sejuk dan dingin hati (dengan wudhu dan dzikir) serta sujud kita mampu mencerahkan dan menjadi cahaya di tengah arus informasi yang cepat tanpa ketinggalan becerita dan bekisah tentang bagaimana Indonesia…
Mari kita ikuti kabar.
Indonesia dengan jernih. Dan juga pers semakin pulih.
Jangan ada yang ugal-ugalan.tapi makin ugal-ugalan.

Kita sebagai insan media bukannya menikmati masa tua untuk rehat.Tapi setiap hari disuguhi bahasa sarkasisme (kasar) dan anarkis (keras). Jaman cupypaste, menjadi wajib diubah dengan membaca ulang, merehab-kata, menghaluskannya menjadi narasi dan bahasa yang baik dan benar.

Kita tak ingin bahasa kacau belau dan memang jauh dari sempurna.Tapi setidaknya sentuhan jari dari kata kata yang membebaskan kita ingin kirimkan kata kata dan kalimat yang penuh pesan dan makna untuk membebaskan kata dari “belenggu” yang semakin menusuk sembilu..

Saya kadung me-rehab deretan berita , yang hari-hari ini jauh dari sempurna , penuh framing dan distorsi.Justru yang apa adanya, jujur, cermat dan cepat akan menemukan jamannya agar pers kembali ke “khittah” sesuai tugas pokok dan jatidirinya pembawa suara kebenaran. Yakni pengemban amanat-amanat suara publik (khalayak).

Selasa, (19/12/2023)

*Penulis di berbagai media online, mantan penggiat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Reformasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *