AGAMADAERAH

Haul ke 3 Almarhum KH. Muhammad Masroni, Pengasuh Ponpes Sunan Gunung Jati, Semarang 

Semarang, penapersatuan.com – Safari Maulid Majelis Az Zahir pada hari Selasa (29/8) berbarengan dengan Haul ke 3 (alm) KH Muhammad Masroni, digelar di kompleks Ponpes Sunan Gunung Jati ,Semarang Jawa Tengah berlangsung hidmat dan semarak.

KH adalah salah satu penderek Habib Luthfy bin Yahya, semasa hidupnya berhidmah dan mengambil sanad Thariqah Sadziliyyah. Alm KH Muhammad Masroni, Lahir di kabupaten Demak Pada tahun 1962, Almarhum KH. Muhammad Masroni merupakan sosok yang sangat tekun & mempunyai totalitas yang sangat tinggi dalam berkhidmah di Organisasi Banom Nahdlatul Ulama’, khususnya di Jam’iyyah Thoriqoh (JATMAN) disela kesibukannya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy yang beralamat di Kampung Malon Rt 001/006 Kelurahan Gunungpati Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

Pesantren ini dirintis oleh beliau Almarhum KH. Muhammad Masroni mulai tahun 2008 atas dawuh Beliau Maulana Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya Pekalongan pada saat masih menetap di Pesantren Nurul Qur’an Purwosari Sayung Demak, Pesantren yang didirikan beliau ini memiliki ciri khas penekanan dalam pembelajaran Alqur’an dan ilmu tasawuf dengan mengikuti Thariqah Syadziliyyah.

Selain sebagai tokoh agama Almarhum juga sosok yang ahli dibidang strategi, management, ekonomi khususnya bidang pertanian & peternakan. Selama tahun 2010 sampai dengan 2020 Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy mengalami kemajuan yang sangat pesat dengan capaian luar biasa. Beliau mendirikan lembaga pendidikan SMP & SMK yang memiliki spesifikasi khusus dibidang pertanian & peternakan, dengan program unggulan tahfidz Al-Qur’an.

Selain itu, Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy dalam membantu Ketahanan Nasional mendirikan lembaga Bank Wakaf mikro & RBL(Rejaning Bumi Leluhur) sebagai bentuk kecintaan Beliau kepada Bangsa & Negara Indonesia dengan menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Pesantren Sunan Gunung Jati Ba’alawy juga memiliki cabang untuk memperluas dakwah Ahlussunah Wal Jamaah & Thariqah Syadziliyyah diantaranya di Daerah Sragen, Klaten, Wonogiri, Solo, Sukoharjo, Demak, Bekasi, Boyolali dan Semarang.

Semasa hidup, Almarhum sangat istiqamah dalam berziarah & khataman Al Quran dimakam Para Auliya khususnya setiap Hari Selasa siang dimakam Al Habib Hasan bin Thoha Semarang. Sejak remaja beliau aktif di berbagai bidang dan menempa diri dilingkungan badan otonom NU yakni di IPNU & GP ANSHOR, NU.

Semangat berkhidmahnya semakin kuat saat almarhum berguru & berthariqah sejak tahun 1986 bersama H Slamet Purwono Jakarta dan H. Mursidi Solo kepada Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya hingga beliau Almarhum di angkat menjadi Badal di Thoriqoh Syadziliyah dan mendapat berbagai sanad diantaranya al qur’an, manaqib, dalailul khairot, rotibul kubro

Sebelum di Jam’iyyah Thoriqoh (JATMAN) almarhum selalu aktif mendampingi Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam mengembangkan program kependidikan dan berbagai acara yang ada di bawah naungan Kanzus Sholawat Pekalongan. Ketika Habib Luthfi bin Yahya menjadi Ro’is Am JATMAN mulai tahun 2000, beliau aktif membantu Guru selaku murid dengan menjabat sebagai Katib, kemudian Sekjend (Sekretaris Jenderal) hingga akhir hayat beliau menjabat sebagai Katib Majelis Ifta’ Idaroh Aliyah Jatman.

Acara haul dan maulid ini digelar bada isya dengan tahlil, doa dan pembacaan manakib yang bersambung dengan pembacaan maulid dan sholawatan bersama yang dipimpin oleh Habib Ali Zainal Abidin Bin Segaf bin Abubakar Assegaf.

Acara yang di hadiri Rois Syuriah dan jajaran Tanfidziyah NU Kab Semarang ini dihadiri ribuan para remaja putra dan putri yang memadati arena haul dan maulid.

Pembicara pada malam Safari Maulud Majelis Az Zahir ini adalah Habib Muhammad bin Farid Al Muntohar. Pada ceramah singkatnya Habib Muhammad menyampaikan tentang pentingnya mengingat dan meneladani orang saleh.  Selain itu, Habib Muh Farid Muntohar juga mengingatkan pada jsmaah bahwa di Semarang ini ada ulama besar yang menjadi rujukan banyak ulama terdahulu.”Adalah Syekh Soleh Darat yang dahulu menjadi tempat berguru banyak ulama,” kata Habib Muhammad Mengingatkan pada jamaah.

Acara kemudian ditutup dengan doa penutup oleh Habib Ali Zainal Abidin.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *