SASTRA

Ngelindur

Cerpen Karya: Aji Setiawan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bermimpi. Lain soal dengan mengigau alias ngelindur. Tidur adalah kondisi merehatkan dari penat kehidupan.

Suatu ketika di masa kecil, ada orang bangun tidur tiba-tiba jalan sendiri, kemudian ke kamar mandi dan kencing, habis itu tidur lagi.Orang di Jawa menyebutnya ngelindur

Lain soal bila sedang tidur tapi mimpi kencing di pinggir kali, tahu -tahu bangun  tidur, sprei sudah basah semua dan bau pesing lagi, itu namanya ngompol.

Dalam suasana tenangku, selepas shalat Isya jama’ah di depan rumah.Segera kuberjalan cepat ke rumah Kang Warson.

“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuhu…”

“Wa alaikum salam warohmatullohi wabarokatuhu.” Terdengar suara darj dalam rumah..

Masuk saja.. 

Tapi karena sang tuan rumah sedang makan malam, aku segera membalas,

”Ya, situ teruskan dulu..”

“Arep maring ngendi?” (Mau ke mana?)

“Bentar, ya…aku mau ke warung” kataku sembari berlalu dengan cepat menuju warung sebelah, untuk membeli kopi.

Waktu segera berlalu dengan cepat, duduk sebentar sembari minum kopi dan bicara ngalor ngidul, mbambung.

Tiba-tiba datang tetangga minta sang tuan rumah mengantar ayam jawa (ayam kampung) untuk di jual.

Sembari menunggu sang tuan rumah mengantar pesanan ayam kampung, ku mulai menulis cerpen dengan cepat pula.

Tak berapa lama berselang, datang Kang Jono bertamu.

“Yuk menjenguk Kaji Makin, putra Kyai Ghofur…”

“Kakange lagi nganter ayam..”

“Lama nggak. Soalnya aku ada tamu,” kata Kang Jono.

“Ya kalo begitu…saya pulang dulu..”

Aku yang sembari tadi duduk sembari menulis cerpen ini menimpali ,”Ya nanti saya dan Kang Warson ke tempat sampeyan dan lepas itu ke pondok pesantren,” timpalku.

Kembali kuteruskan menulis di android cerpen singkat sembari menunggu Kang Warson.

Agak lama juga gues…sayup-sayup terdengar suara perbincangan penduduk kampung ditemani lagu dangdut dari warung sebelah.

Tak berapa lama berselang, Kang Warson pulang.

Segera kusampaikan pesan dari Kang Jono.

Suara dalam rumah , Yu Sinur juga menyampaikan pesan yang sama agar segera ke tempat Kang Jono.

Ah jadi kaya militer saja, sudahlah cepat ganti baju, segera ke pondok.

Kami berduapun langsung naik motor masng-masing memacu motor ke pondok dengan cepat. 

Sampai di pondok , Kyai dan beberapa tamu sudah ada di ruang dalem. 

Duduk bersama dengan para tetamu dan para alumni santri. 

Cukup lama berbincang dengan sang Sahibul Bait yang rumahnya di utara Masjid al Barokah desa kami.

Tak lupa kami berbincang dengan pata tetamu sembari minum air zam-zam dan oleh-oleh dari Mekah.

Kami bertiga juga meminta doa dengan Gus Makin yg baru pulang Haji.

Sekitaran jam 10 malam lewat 17 menit, rasa kantuk sudah menyergap , udara dingin malam dalam 3 minggu terakhir ini sudah terasa menggigit tulang.

Dua temanku tak berapa lama kemudian beranjak pulañg.Tapi aku malam ìtu di beranda Masjid belahan barat berpapasan dengan putra Sulung, Kyai Ghofur.Kami berdua duduk agak làma di beranda utara masjid al Barokah apalagi dalam dua tahun ini Gus Ainul banyak berada di Kediri, Jawa Timur.

Aku dan Gus Ainùl bèrbincang soal pekerjaanku ÿang selama inj kugeluti yakni menulis.

“Hampiŕ dua tahun pandemi, media mati suri. Bila menerbitkan lagi, tentu butuh modal besar,” buka ku memulai perbincangan.

Menariknya Gus Ainul menyebut media online memang yang tengah menjadi tren, hampir semua kalangan bahkan isi konten yang bervariasi.

Namun, dalam benakku berjejal terpendam idealisme pers cetak sebagai optimisme pers mahasiswa pada kurun akhir 90 an ,saat media online mulai marak di tanah air.

Kenapa pers cetak masih penting? 

Jawabannnya sebenarnya mudah, agar mudah membacanya dan awet. Namun tentu juga, ditengah medan persaingan yang sedemikian ketat dan berpacu dengan waktu…..tatapanku mulai gelap, sebagaimana pergiliran gelap malam menjelang waktu dinihari.

Tak berapa lama , Amir sahabat ku sekolah di Madrasah datang dan nimbrung, di pinggir masjid al Barokah.

“Sudah sebulan terakhir ini para pemuda desa, berjuang di pentas  kecamatanl. Mir, gimana bulu tangkisnya?”

“Wah kabar terakhir tinggal satu pemain tunggal saja,” buka Amir.

*Aku sekarang lagi tidak suka olah raga, hampir sudah satu setengah bulan ini menotulensi maulidan tiap malam,” jawabku.

Tampak Gus Ainul membuka WA grup Ploso….

Pilihan metode online di jaman digital ini memang harus serba cepat. Tapi, responsifnya juga harus cepat pula. Dan harus juga disadari diserupsi digital berbarengan jaman serba sulit, tentu membuat jadi pilihan -pilihan paling mungkin untuk bergerak cepat.

“Tapi orang lupa, risalah jalan kabegjan (kebahagiaan). Agar selamat di dunia dan di akhirat,” pesanku singkat…

Sembari aku pamit pulang karena sudah sangat lelah..

Wassalalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuhu.

“Wa’alaikum Salam warohmatullohi wabarokatuhu…” jawab Amir dan Gus Ainul kompak.

Aku bergegas pulang karena hari sudah larut malam jelang dini hari. Adapun membuncah untuk membayar kontan, keinginan dan mimpi-mimpi terpendam. (***)Aji Setiawan

Hingga hari ini, fenomena hari ini mau akan apa, hampir di pojok pinggir (perivery ekonomic) atau wilayah piinggiran yang menggantungkan diri pada sektor informaal, sangat tinggi. Pada pil plok, ya  hari ini dapat rezeki, hari ini juga langsung habis ditelan.

 Belum lagi sistem aturan yang fait a comply  (Fenomena Gunung Es) menyitir Sarluhut Napitupulu rekan saya dari PWI -Reformasi DKI yang kemudian lebih memilih jadi Banwaslu tingkat Provinsi DKI Jakarta. 

Saya kira, ketika setiap kasus, kejadian disikapi dengan suasana solusi, kita tidak mudah terjebak oleh fenomena gunung es.

Bagaimana tidak, ketika kasus-kasus menumpuk, menimbun dafar kejadian saja tanpa ada upaya preventif, ibarat menampung sampah di tempat yang salah. Atau memang masalah itu sudah benar benar menggunung di puncak gunung es, tinggal longsor dan banjir saja.

Belum selesai urusan sepak bola pada piala Dunia. Indonesia terhibur dengan Emas di SEA Games.

Seribu alasan apapun, tentu hanya nyanyian terlambat sudah.

Suatu ketika, saya bertemu tokoh militan di sebuah desa terpencil..”Kabeh kalender sing nyebar , tanpani bae…pajang nang ruang tamu.”

Saya tajam mendengar ia bicara, sembari kuamati seksama pesta kaderasasi itu di tengah makan, rokok dan kopi gratis.

Sungguh perhelatan pesta demokrasi terpanas tingkat desa di desa kelahiran “Sumanto” itu kuikuti dengan seksama. 

Mahal sekali jadi penengah berbagai kepentingan , sehari 4 sampai 5 pesta dihelat.

“Kalau ada uangnya, terima saja,” katanya dengan penuh yakin.

Padahal , berjuang di jaman kini, kita bukan lagi kerja dibayar uang, kalau nggak dibayar, bilangnya,”Kebangeten,”

Atau istilah usang, “maju tak gentar membela yang bayar “

Rasa ikhlas untuk terus bekerja, bakal luluh, ketika keikhlasan melangkah, terjegal oleh banyak kendala.

Zuhud, Qonaah dan Sabar serta ikhlas menjalani setiap ritme kehidupan.

Lihatlah dan belajarlah dari fenomena sepak bola dalam melihat dan memaknai demokrasi sebagai ukuran dalam menilai.

Ketika orang bertanya arah Demokrasi Pemilu 2024, kita optimis semua harapan akan terselenggara dengan jujur, adil serta bermartabat.

Biaya pesta demokrasi itu, hampir mendekati 200 Trilyun. Tahun politik ke depan, tentu harapan besar akan lebih baik lagi.Buang jauhlah pikiran negatif thingking , rubahlah dengan positif thingking.

Tentu harus juga dibarengi dengan bekerja sama dengan setiap komponen manapun untuk mensukseskan Pemilu 2024.

Apapun resikonya, jadwal serta aturan main semua sudah ada.

Ketika jadwal Pemilu sudah ada, maka ibarat melihat liga sepak bola,  klasement Liga presiden resmi di buka Nopember 2023..Liga caleg pun, berjalan beriringan.

Sekarang sampai dengan Agustus 2023, ibarat sebelum open tournamen digelar, waktu tersisa dibergunakan untuk pertandingan persahabatan.

Hebat nggak tuh, sesama kawan saling bertanding, nggak perlu adu jotos untuk memenangi pertandingan, karena laga latihan bertanding persahabatan ini pun, untuk berkeringat agar sehat.

Jadi pentingnya pada latihan, nggak usahlah ngomong hasilnya berapa berapa, atau siapa lawan siapa.Pertandingannya saja belum dimulai???  

Saya jadi ingat liga sepak bola (open tournament) di Lapangan Sepak Wirasaba, yang terletak di komplek Lanud (Lapangan Udara) Auri Wirasaba.

Waktu itu saya masih SMA, ikut technical meting (musyawarah perwakilan klub sepak bola dengan panitia pertandingan) liga Lanud Wirasaba

Pada saat rapat,seminggu sebelum Open Tournament sepakbola bergengsi di kec Bukateja itu dibagikan jadwal pertandingan dan aturan main baik untuk pelatih, pemain dan bahkan biaya umpamanya bon pemain, bahkan aturan denda bagi pemain yang kena kartu merah atau kuning. Intinya begini, saat itu tahun 1995, bahwa ABRI yang sangat saya cintai, menanamkan disiplin dan cara sportifitas yang sangat  tinggi dengan mendidik dan melatih masyarakat.  

Untuk taat aturan.Betapa menangjs batin saya, mendengar sepak bola sekarang sudah sangat ketat. Fisik dan stamina pemain itu penting serta memperbaiki sepak bola indah dan tidak asal menang-menangan. 

Malu kita itu , bukannya memperbaiki carut marut dunia bola, malah ribut sesama anak bangsa. Pertanyaan mendasar selanjutnya bagaimana kita memulai lagi menata dunia sepak bola.

 Cuaca panas membakar satu setengah bulan terakhir, tentu menguras stamina.Istirahatlah yang cukup, jangan memaksakan diri menentang alam. Di mana cuaca terik tengah membakar seantero bumi.

Ah, aku jadi ingin  main sepak bola,tapi apa daya, badanku telah menjadi danrenta. Ora et Labora.Tiada hari tanpa olah raga.Subuh pagi buta, lalu berjalan sebentar untuk menguras karbon danengisinya dengan udara pagi buta bersembunyi adalah cara murah dan gratis agar tetap sehat.

Sembari menabur asa dan harapan terbesar adalah  suatu saat nanti ada asa dan doa tersisa, suatu saat nanti Indonesia bisa bermain di Piala Dunia.

(AJI Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *