DAERAHPENDIDIKAN

Dedi Iskandar: Al Washliyah Harus Tanamkan Semangat 4 Pilar Kebangsaan di Lembaga Pendidikan

Medan, penapersatuan.com – Di tengah kesibukannya menjalankan tugas konstitusi sebagai anggota DPD RI/MPR RI, Dedi Iskandar Batubara menyempatkan diri menggelar Sosialiasi Empat Pilar Kebangsaan kepada konstituennya pada Selasa (20/6/23).

Mengumpulkan semua pengurus Majelis Pendidikan Al Jam’iyatul Washliyah Sumatera Utara di Hotel Madani Kota Medan, acara tersebut dipadati oleh sekira 150 peserta.

“Saya sengaja mengundang Pengurus Majelis Pendidikan Al Wshliyah pada acara kali ini, karena momennya bertepatan dengan tahun ajaran baru. Jadi, melalui kesempatan ini saya ingin menekankan kepada pengurus Majelis Pendidikan Al Washliyah agar memperkuat penanaman karakter Empat Pilar Kebangsaan di seluruh lembaga pendidikan Al Washliyah. Dai tingkat yang paling dasar hingga perguruan tinggi,” Dedi Iskandar menyampaikan tujuan pemilihan audiens.

Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa DIB menjelaskan bahwa konsep penanaman nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan kepada siswa di lingkungan Pendidikan Al Washliyah sangat penting, untuk mencetak generasi yang religius, cinta NKRI, patuh pada UUD 1945, menjiwai semangat Pancasila, dan menerapkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

“Menanamkan kecintaan kepada NKRI sangatlah penting, karena saya melihat gejala generasi muda sekarang banyak yang termakan pengaruh ekspansi budaya asing. Akibatnya, banyak dari mereka yang lebih senang mengdentivikasi diri dengan bangsa asing. Bersikap dan berbahasa layaknya warga negara asing. Ironi ini tidak boleh dibiarkan, karena NKRI begitu luas dan kaya akan budaya. Begitu banyak kesnian dan tradisi Indonesia yang dikagumi dunia. Tapi akan terlihat aneh jika generasi muda Indonesia mulai melupakan tradisi mereka sendiri,” jelas Dedi yang juga menjabat sebagai Ketua PW Al Washliyah Sumatera Utara.

Dedi tidak tampil sendiri sebagai pemateri dalam sosialisasi 4 Pilar. M. Darwis, salah seorang kader senior juga memberikan materi. Keduanya berbagi porsi penjelasan. Jika Dedi Iskandar Batubara lebih menitikberatkan paparannya pada masalah NKRI dan Pancasila, maka M Darwis mendetailkan pada 2 pilar yang lain, yaitu Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 1945.

Menurut Darwis, semua keluarga Al Washliyah punya tanggung jawab yang besar untuk menerapkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, mematuhi terhadap UUD 1945, mencintai NKRI, dan menjiwai Pancasila. Pasalnya, keempat pilar kebangsaan ini merupakan warisan idealisme dari para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah para kader Al Washliyah.

“Para pendiri bangsa sudah merumuskan dasar-dasar berbangsa dan bernegara. Semuanya bersifat prinsipil dan ideal. Oleh karena itu, bagi warga Al Washliyah, terutama pengurus Majelis Pendidikan, tidak cukup dengan hanya menerapkannya saja. Lebih dari itu, harus berupaya mewariskannya kepada generasi penerus. Hal ini penting karena pada era globalisasi seperti sekarang, batas-batas territorial negara menjadi kabur, karena semua orang dari seluruh penjuru dunia bias berinteraksi secara virtual. Pada titik ini, kita tidak boleh kehilangan jadi diri dan identitas kebangsaan,” ujarnya.

Semua peserta terlihat bersemangat dan antusias menyimak paparan materi. Ketika sesi diskusi dibuka, moderator meminta para peserta untuk mengangkat tangan jika ingin menyampaikan pertanyaan. Karena begitu banyak peserta yang mengangkat tangan, maka moderator membagi sesi diskusi pada 3 termin. Setiap termin diberikan kepada 3 peserta untuk menyampaikan pertanyaan.

Kedua pemateri silih berganti menjawab semua pertanyaan peserta. Setelah sosialisasi selesai, Dedi Iskandar Batubara dikerubuti para kuli tinta untuk dimintai keterangan seputar perkembangan politik muttakhir.

(AW/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *