TOKOH

Haul ke 276 KH Ki Ageng Muhammad Besari Resmi Digelar 31–4 Juni 2023

Ponorogo, penapersatuan.com – Hampir tiga abad sudah Kiai Ageng Muhammad Besari wafat. Selama itu pula, peninggalannya begitu dirasakan umat dan namanya dikenang hingga saat ini.

Untuk memperingati wafatnya beliau, Yayasan Kiai Ageng Muhammad Besari didukung Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo menggelar Haul ke – 276 Kiai Ageng Muhammad Besari, 31 – 4 Juni 2023.

Bersamaan dengan Majelis Dzikir Maulidurrasul SAW, rangkaian haul dibuka oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko, Kamis (31/5/2023), di Kompleks Masjid Tegalsari. Rangkaian haul akan dilanjutkan dengan simaan al-Quran hufadz se Kabupaten Ponorogo serta tahlil qubro dan ambengan, Kamis (1/6/2023).

Di hari Jumat (2/6) digelar lomba Pildacil, dilanjutkan festival banjari, Sabtu (3/6). Di hari terakhir, Minggu (4/6), dilaksanakan kirab budaya dan penutupan haul dengan pengajian akbar yang diisi Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan KH Miftah Maulana Habiburrohman (Gus Miftah).
 
Haul ke-526 Kiai Ageng Muhammad Besari, ungkap Kang Bupati, merupakan langkah mengenang sekaligus mengenalkan leluhur kepada generasi – generasi setelahnya. Selain sebagai ungkapan terima kasih atas jasa besar Kiai Ageng Muhmmad Besari, haul penting untuk menularkan spirit perjuangannya kepada generasi saat ini.

“Kita semua tahu besarnya jasa dan peninggalan beliau bagi kita. Spirit beliau mari kita jaga dan teruskan untuk membangun Ponorogo dan Indonesia,” ungkap Kang Bupati.

Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari merupakan pendiri pesantren Gebang Tinatar atau Tegalsari. Pesantren ini berada di di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Ponorogo.

Hasan Besari lahir sekitar tahun 1760-an. Beliau keturunan dari Pendiri Kerajaan Majapahit dan Ibunya dari Baginda Rasulullah, dari jalur Ayah (Kiai R. Nedo Kusumo), Kiai Ageng merupakan keturunan ke-31 dari pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya.

Sedangkan dari garis keturunan Ibu (Nyai Anom Besari), nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw keturunan ke-48 melalui garis Sayyidati Fatimah Az-Zahro.

Ia adalah cucu pendiri Pesantren Tegalsari, Kiai Ageng Muhammad Besari (wafat 1773). Ayahnya adalah Kiai Ilyas (wafat 1800) yang melanjutkan kepemimpinan pesantren pasca wafatnya sang pendiri.

Menghabiskan masa mudanya berguru kepada ayah dan kakeknya sebelum akhirnya memegang tampuk kepemimpinan pesantren mulai tahun 1800 hingga wafatnya.

Selama nyantri sama kekeknya, Kiai Hasan Besari satu seperguruan dengan pujangga kenamaan  Yasadipura II (wafat 1844).

Kasan Besari tidak disenangi oleh Pemerintahan Belanda, baik VOC maupun setelah berubah menjadi Pemerintahan Hindia Belanda. Kasan Besari berusaha untuk menegakkan hukum Islam di Tegalsari, yang merupakan desa perdikan. Penegakan hukum Islam tersebut bertujuan untuk menciptakan masyarakat lebih tertib, aman, dan lancar. 

Namun demikian, tindak tegas ini mengandung resiko karena bermunculan kelompok-kelompok masyarakat yang kurang senang. Pemerintahan Hindia Belanda menyatakan bahwa tindakan Kasan Besari adalah salah dan bertentangan dengan hukum yang berlaku. Kemudian Kasan Besari dituduh sebagai pembangkang dan suka main hakim sendiri.

Paku Buwono IV (1788-1820) yang sudah termakan hasutan Pemerintah Belanda, memanggil dan menghukum Kasan karena dianggap melanggar aturan. Kasan Besari ditahan di penjara Surakarta untuk sementara waktu. 

Pemerintah memutuskan Kasan Besari akan dihukum selong atau dibuang atau diasingkan ke luar daerah. Rencananya Kasan Besari akan dibuang ke luar Jawa tapi anehnya setiap kapal yang akan membawanya berlayar dari Batavia a tidak bisa jalan begitu ia naik. Hal tersebut terjadi berulang-ulang.

Murid-murid atau santri Kasan Besari juga melakukan protes dan meminta pembebasan untuk Kasan Besari yang menurut mereka tidak bersalah.

Akhirnya Kasan Besari kembali ditahan di Keraton Surakarta tapi ditempatkan di masjid. Diceritakan, suatu saat, Keraton mengadakan sholawatan. Kiai Kasan Besari ditunjuk sebagai imam. 

Suaranya membuat Paku Buwono IV, yang terkenal dengan bukunya Wulanggreh, terpikat kepadanya. Kasan Besari bukan hanya dibebaskan, tapi juga dikawinkan dan  diambil menenatu oleh Paku Buwono IV. Ia dinikahkan dengan Raden Ayu Cokrowioto, kemenakan Susuhan.

Setelah itu Kasan Besari memboyong istrinya yang putri Keraton itu ke Tegalsari. Salah satu sumbangan istri Sang Kiai adalah masuknya ilmu keterampilan membatik ke dalam pesantren. Waktu itu seni membatik baru terbatas dalam kehidupan keraton. 

Ketika sang istri beserta pengiringnya dari istana memperkenalkan batik, para santri pun – terutama santri-santri putri – ikut belajar membatik, sehingga menjadi bagian dari ilmu yang dipejari di Pesantren Tegalsari.

Sejak itu masyarakat Ponorogo pun merasakan dampak yang besar yang diberikan keterampilan batik ini bagi kehidupan perekonomian mereka.
sosok Kiai Ageng Hasan Besari pandai dalam berbagai keilmuan, di antaranya agama (tasawuf), ketatanegaraan, strategi perang dan kesusastraan sehingga beliau dikenal banyak orang dari penjuru Nusantara, mereka h-duyun menimba ilmu kepadanya.

Kiai Hasan Besari melahirkan tokoh-tokoh, pertama Pakubuwana II, Sultan Kartasura yang berkancah dalam dunia politik. Kedua, Bagus Burhan atau Raden Ngabehi Ronggowarsito, sastrawan Jawa yang menciptakan kidung Zaman Edan. Dan ketiga, H.O.S Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional pendiri Sarikat Islam.

Kemudian ketiga tokoh ini menginspirasi sang Proklamator, Ir.Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak lepas dari itu, keilmuan Kyai Ageng Hasan Besari juga sampai pada KH. Hasyim Asy’ari. Adabul Alim wal Muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari masih ada keterkaitan dengan Krama Negara karya Kyai Ageng Hasan Besari, yang keduanya bermuara pada Kitab Silakrama karya Empu Prapanca.

Kyai Ageng Hasan Besari wafat pada 12 Selo 1165 H (1747 M), dimakamkan di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Makamnya menjadi wisata religi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah, terutama saat malam Jumat
Selepas Kiai Kasan Besari wafat Pesantren Tegalsari lambat laun mengalami kemunduran sebelum akhirnya punah.

Namun, di antara anak turun Kiai Kasan Besari, ada yang membuka pesantren baru sebagai pengembangan dari Pesantren Tegalsari di daerah Gontor, Ponorogo. 
Pesantren yang bermula bercorak salafiyah sebagaimana pesantren induknya ini, kemudian dikembangkan oleh tiga bersaudara, yang keseluruhannya merupakan keturunan Kasan Besari, yaitu Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani, dan Imam Zarkasy. Itulah Pondok Moderen Gontor Ponoroga yang masyhur itu.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *