SOSOK

Kisah Penuh Karomah Habib Husein Alaydrus, Kramat Luar Batang

Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus atau yang dikenal penduduk Jakarta sebagai Habib Husein Luar Batang.

Al Habib Husein merantau dari Hadramaut, Yaman saat berusia remaja. Tepatnya setelah gurunya, Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, wafat dalam usia 98 tahun (1132 H/1720 M). Atas izin Ibunya pula Habib Husein merantau untuk melakukan syiar Islam.

Habib luar Batang juga memiliki beberapa karomah yang cukup populer. Karomah sendiri merupakan kejadian luar biasa pada seseorang yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada orang yang sholeh. Penasaran apa saja? berikut diantaranya.

Saat hijrah dari Yaman ke Jakarta, Habib Luar Batang singgah terlebih dahulu di India. Pada saat itu, kota Gujarat yang ditempatinya tengah dilanda kekeringan dan wabah kolera hingga bak kota mati.

Dengan Karomah yang diberikan oleh Allah SWT, Habib Luar Batang sukses membantu negeri tersebut dari kekeringan menjadi daerah yang subur. Namun Habib Luar Batang memberikan satu syarat yakni penghuni wilayah tersebut harus mengucapkan dua kalimat Syahadad.

Setelah mereka setuju untuk bersyahadad dan masuk Islam, Habib Luar Batang meminta mereka untuk membuat kolam atau sumur. Setelah digali dalam, Habib Luar Batang mengajak mereka untuk menengadahkan tangan seraya berdoa dan seketika itulah hujan deras memenuhi sumur tersebut. Sejak itulah tanah yang dulunya kering bak kota mati menjadi tanah yang subur.

Tempat pertama yang dikunjunginya adalah Aceh, kemudian Banten, Jawa Timur, dan Cirebon. Habib Husein akhirnya memilih untuk tinggal di Sunda Kelapa, nama Jakarta kala itu. Beliau bermukim di Kampung Baru yang sekarang dikenal dengan nama Luar Batang.

Lama perjalanan beliau dari Hadramaut ke Sunda Kelapa sekitar 16 tahun. Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus tiba di Luar Batang diperkirakan tahun 1736 M.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Gustaf Willem Baron Van Imhof (1743-1750) menghadiahkan tanah seluas 16,5 hektare yang saat itu sudah menjadi perkampungan. Tanah hibah itu oleh Habib Husein pun dihibahkan kembali kepada masyarakat, murid dan jamaah yang menempatinya.

Konon sebelum Habib Husein datang ke kampung ini sudah ada pemakaman dan langgar. Atas inisiatif beliau, pada pertengahan abad ke 17 langgar yang sudah ada itu dikembangkan menjadi masjid. Menurut cerita turun temurun, masjid itu bernama An Nur.

Habib Luar Batang pernah dipenjara oleh penguasa VOC. Dalam penjara, Habib Luar Batang ditempatkan di dalam kamar yang sempuut dan terpisah dari pengikutnya. Namun ada hal yang terduga yakni para polisi penjara melihat Habib Luar Batang menjadi imam bagi para pengikutnya dan memimpin sholat ditempat para pengikutnya dikurung.

Namun anehnya sebagian polisi penjara tersebut melihat jika Habib Luar Batang tengah menikmati tidurnya yang nyenyak di kamar penjaranya dalam keadaan terkunci rapat.

Hadiah Sekarung Uang

Gubernur Betawi pada saat itu masih bernama Batavia memberikan hadiah berupa sekarung uang kepada Habib Luar Batang karena dirinya tak ingin melupakan jasanya. Namun yang dilakukan oleh Habib Luar Batang malah membuang hadiah dari Gubernur Batavia ke laut.

Gubernur Batavia yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Habib Luar Batang yang membuang hadiah pemberiannya ke laut mengutus penyelam untuk mencari sekarung uang tersebut. Sebelumnya Gubernur Batavia terlah diberi tahu jika uang yang dibuang dilaut untuk dikirimkan ke ibunda Habib Luar Batang.

Karena tak percaya, Gubernur Batavia mengutus ajudannya ke Yaman untuk mencari fakta tersebt, ternyata apa yang dikatakan oleh Habib Luar Batang benar adanya. Setelah bertemu dengan ibunda Habib Luar Batang mengatakan jika menerima uang yang dibuang di laut pada hari dan tanggal yang sama.

Suatu hari, ada seorang warga Tionghoa bernama Ne Bok Seng yang menjadi buronan Kompeni Belanda masuk ke wilayah ini. Seng lalu bersembunyi di Kampung Baru yang sekarang lebih dikenal dengan Luar Batang. Ne Bok Seng pun tertarik pada sikap, sopan santun dan tutur kata Habib Husein yang lembut. Setelah sekian lama menetap, warga Tiongkok itu pun memeluk agama Islam.

Ne Bok Seng kemudian berganti nama menjadi Abdul Qodir dan menjadi murid sekaligus an sahabat setia Habib Husein hingga akhir hayatnya. Setelah wafat, Abdul Qodir dimakamkan bersebelahan dengan makam Habib Husein bin Abdullah bin Abubakar Alaydrus yang wafat pada 24 Juni 1756 M atau bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 H.

Konon nama Kampung Baru pun berubah setelah Habib Husein wafat. Saat jasad Habib Husein akan dimakamkan di Tanah Abang, berkali-kali jenazah beliau selalu tidak ada dalam keranda (kurung batang). Tetapi tetap berada di dalam ruang kamar beliau. Sehingga akhirnya jenazah Habib Husein pun diputuskan untuk dimakamkan di dalam kamarnya yang kini menjadi area ziarah dan wisata rohani.

Haul ke 475 puncaknya akan digelar pada 15 Mei 2023 ,Minggu pagi komplek masjid An Nur, Kramat Luar Batang,Penjaringan Jakarta Utara yang dipastikan dihadiri ribuan peziarah dari berbagai daerah sekitar Jakarta bahkan luar daerah.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *