DAERAH

Peringatan Haul KH Hasyim Muzadi ke 6

Depok, penapersatuan.com – Tepat pada dari seminggu yang lalu, mulai Kamis malam (09/03/23), Pesantren Al-Hikam Depok memulai acara Pra-Haul Abah Hasyim Muzadi yang keenam.

Sebelum memasuki acara puncak, Pesantren Al-Hikam Depok menyelenggarakan beberapa runtutan acara haul secara internal, yang diawali dengan khataman Al-Qur’an selama tujuh hari.

Haul dibuka dengan Khataman Al-Qur’an ini dilaksanakan oleh seluruh santri dan santriwati Pesantren Al-Hikam Depok, yang bertempatkan di Maqbarah Abah Hasyim Muzadi secara luring dan daring.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh saudara Al-Muddatsir Asnur. Selanjutnya sambutan ketua panitia oleh Ustaz Ais Fathinistofa dan disambung dengan sambutan oleh Ketua Yayasan Pesantren Al-Hikam Depok, H. Arif Zamhari, Ph.D.
Dalam sambutannya Ustaz Arif menyampaikan, tujuan diadakannya haul seperti ini tidak lain sebagai ungkapan rasa syukur. “Karena almarhum-lah, Pesantren Al-Hikam ini ada. Karena beliau-lah yang berinisiasi berdirinya STKQ dan Pesantren Mahasiswa ini, kita semua dapat berkumpul di sini.”

Maka dari itu, Ustaz Arif mengajak para asatiz, asatizah, serta seluruh santri, diminta untuk ikhlas dan bersyukur. Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk khatmil Al-Qur’an, berdo’a untuk almarhum, dan berdo’a untuk keberlanjutan Al-Hikam. Sebagaimana hadits telah mengatakan:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرَالِلَّهُ
“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.”

“Jadi, adanya acara haul ini, bukan hanya sekedar rutinitas tahunan saja, tapi lebih dari itu. Sebagai rasa sopan santun kepada guru kita, dengan mendo’akan beliau yang telah mendahulukan kita.” Tutur ustaz Arif mengakhiri sambutannya.

Berlanjut ke acara inti yaitu pembacaan tawasul dan pembukaan khataman yang dipimpin oleh KH. Hilmi As-Shidiqi Al-Aroky.

“Saya do’a-kan, mudah-mudahan dengan berkah haul yang keenam ini, antum semua bisa jadi penerus perjuangan Abah Hasyim Muzadi untuk menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.” Ungkap Ustaz Hilmi sebelum akhirnya memulai tawasul.

Sementara itu masih dalam rangkaian Haul KH Ahmad Hasyim Muzadi ke 6, Ponpes Mahad Aly Depok juga menggelar Halaqah Peradaban dengan menghadirkan Jenderal (Purn) H. Wiranto.

Moderasi beragama menjadi hal yang aktif dipromosikan dan terus diupayakan.guna membentuk cara pandang masyarakat yang moderat. Mengingat terus adanya ekstremisme, radikalisme, dan tak terbendungnya ujaran kebencian menjadi salah satu ancaman laten yang tidak boleh luput menjadi perhatian.

“Selalu mengakui, menghormati, dan mampu bekerja sama merupakan ciri dari masyarakat yang religius,” tutur Ketua Wantimpres, Jenderal (Purn) Wiranto saat pembukaan Halaqah Nasional di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, Rabu (15/3/2023). Halaqah ini sebagai bagian dari Haul Ke-6 KH Hasyim Muzadi.
  
Indonesia dengan Pancasila turut menyuguhkan keistimewaan. “Ada rajutan antara sila satu tentang ketuhanan dan pengakuan terhadap agama lain dengan sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia,” lanjut Wiranto di hadapan para santri dan jamaah.

Hal tersebut juga selaras dengan apa yang disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono Abdul Ghafur. “Spirit anak pesantren (santri) yang pertama yaitu komitmen terhadap kesatuan Republik Indonesia,” kata Waryono.
  
Waryono menyampaikan perlu dibangunnya ukhuwah wathaniyyah dan ruuhul mahad yang menjadi jati diri pesantren sejak didirikan oleh para ulama dari dulu hingga sekarang. “Pesantren yang tidak punya komitmen kepada kemanusiaan dan kenegaraan, itu merupakan penyimpangan dari kultur pesantren yang telah digagas oleh para kiai terdahulu,” tutur Waryono.
 
Kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Litbang Kementerian Agama itu mengusung tema Moderasi Beragama di Kalangan Pendidik, Dai, dan Santri. Langkah dan pemikiran Kiai Hasyim Muzadi pun mendapat banyak apresiasi dari narasumber

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, M Yusron Sidqi, dalam sambutannya menceritakan, “Sebelum abah (KH Hasyim Muzadi) wafat beban pikirannya adalah agama dan negara. Tentang bagaimana keislaman di Indonesia dan nasib negara Indonesia sendiri.”

Karena itu, lanjut M Yusron, “Sebelum beliau wafat, abah menitipkan 2 hal, yaitu menitipkan kepada para kiai dan tokoh agama mengenai Islam di Indonesia. Kemudian kenegarawan abah menitipkan Indonesia.”

Yusron juga menyampaikan tidak ada jarak antara negara dan agama. Halaqah tersebut menjadi pertemuan antara orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai agama dan negara sekaligus. Menurutnya agama dan bisa bersinergi satu sama lain.

Halaqah ini turut dihadiri Rais Syuriyah PBNU Kiai Cholil Nafis dan Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Rochmat Wahab sebagai narasumber.

Perlu diketahui KH Hasyim Muzadi (8 Agustus 1943 – 16 Maret 2017) adalah seorang tokoh Islam Indonesia dan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2000-2010 dan juga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

 Ia juga pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang, Jawa Timur, sebelumnya dia sempat mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor (1956-1962).

A Hasyim Muzadi menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Gontor Ponorogo, ia lalu menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri Malang, Jawa Timur pada tahun 1969.

Hasyim Muzadi pernah menjabat sebagai Ketua I Pengurus Cabang PMII Kota Malang pada tahun 1968. Kemudian menjabat pula di kepengurusan PB PMII pada tahun 1970-an.

Lalu kiprah organisasinya mulai dikenal oleh khalayak ramai ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999. Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan.

Muzadi telah disebut-sebut sebagai pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia seawal November 2003. Ia resmi maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004. Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan Muzadi meraih 26.2% suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

Sebagai seorang pengasuh Pondok Pesantren Kiai dan pengajar, KH Hasyim Muzadi masih sempat menulis beberapa buku, diantaranya; Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999; NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999; Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.

K.H. Hasyim Muzadi meninggal pada 16 Maret 2017 di Malang, Jawa Timur pada pukul 06.15 WIB. Jenazahnya kemudian dibawa ke Depok untuk di makamkan di komplek Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok, Jawa Barat.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *