KOLOM

Tradisi Ruwahan dan Munggahan Pada Masyarakat Betawi

Oleh: Ustadz Noor Bek

Ruwahan

Kedatangan bulan Ramadhan dianggap sebagai “tamu agung” bagi seluruh umat muslim, tak terkecuali di Indonesia. Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat muslim dalam menyambut masuknya Bulan Suci Ramadhan. Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jakarta, tradisi menyambut Ramadhan dilakukan bahkan 15 hari sebelumnya yang kemudian lebih dikenal dengan istilah “ruwahan”.

Istilah ini dikenal di masyarakat Betawi sebagai ajang silaturrahim atau saling berkunjung antar keluarga, baik dengan mereka yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Masyarakat Betawi mempunyai tradisi pada malam Nisfu Syakban bernama ruwahan. Kata ruwahan, yang diambil dari kata ‘arwah’ atau roh leluhur, merujuk pada kepercayaan jika para arwah leluhur akan datang menjelang bulan puasa untuk menengok keluarganya.

Masyarakat Betawi akan mengundang keluarga besar, tetangga, dan pemuka agama untuk menggelar pengajian dan tahlilan guna mendoakan kerabat atau keluarga yang telah meninggal dunia. Pada saat ruwahan juga disediakan berbagai suguhan, seperti ketupat sayur, semur daging, buahan, dan kue-kue.

Munggahan

Dalam tradisi “munggah”, biasanya seluruh anggota keluarga yang berada di luar kota akan berkumpul di tempat orang tuanya. Ini dilakukan untuk menjalin keharmonisan hubungan keluarga, menikmati saat santap sahur bersama yang sangat jarang dilakukan. Namun kini akibat pengaruh migrasi, tradisi “munggah” tidak lagi dianggap perlu dilakukan di kampung, di kotapun bisa. Misalnya dengan mengunjungi tempat hiburan atau tempat-tempat yang memungkinkan tetap mempertahankan tradisi ini. Kegiatan “munggah” umumnya dilakukan oleh individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Biasanya menonjolkan berupa kegiatan bersuci atau mandi besar, kemudian tabuhan-tabuhan bedug setelah salat subuh hingga menjelang malam pertama Ramadhan, dan acara membersihkan makam, serta makan bersama.

“Munggahan” Bagi orang betawi kata ini sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga. Kata yang biasa mereka dengar apabila memasuki bulan suci Ramadan. Kata Munggahan ini sendiri berasal dari Bahasa Sunda yaitu “unggah” yang mempunyai arti kata naek ka tempat nu leuwih luhur atau naik ketempat yang lebih tinggi. (Danadibrata, 2006:727)

Memang apabila di runtutkan betawi ini lebih dekat akan budaya sunda, karena betawi ini sendiri bukanlah suku akan tetapi sebuah bentuk perpaduan dari berbagai suku yang membentuk budaya baru di Batavia. Maka sebenarnya tidak ada istilah “suku betawi” yang ada hanyalah “anak betawi”.

Biasanya munggahan dilaksanakan oleh masyarakat betawi dengan berbagai macam kegiatan, seperti dengan ziarah ke kubur (ngored), rowahan (selamatan), keramas dengan merang (padi yang dibakar) agar diri menjadi bersih lahir batin, serta saling beranjang sana menyambung tali silaturrahim. “Tradisi munggahan, umumnya berkumpul dengan keluarga dan kerabat, tetangga, sahabat dan masyarakat makan bersama, lalu saling memaafkan, ada juga berdoa bersama.”

Sebenarnya makna dari tradisi munggahan adalah untuk introspeksi diri dari segala kesalahan yang sudah pernah dilakukan sebelumnya dan sebelum memasuki Bulan Ramadan tersebut. Segala kesalahan terutama kepada sahabat, teman dan keluarga dapat diampuni. Pada akhirnya seseorang memasuki Bulan Ramadan dalam keadaan bersih hati dan bersih diri.

Catatan :

Dalam hadist riwayat Muslim dan Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori)

Hadist ini memberikan penjelasan bahwa ada kaitan antara iman seseorang dan memuliakan tamu. Islam memandang memuliakan tamu tidak hanya sebagai faktor penting dalam membangun kehidupan manusia, tetapi juga menjadi ukuran keimanan seseorang.

Penulis adalah Sekretaris IMANI Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *