KOLOM

Integrated System Industri Sawit Indonesia

Oleh: Aji Setiawan, ST

Proses hilirisasi sektor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) setelah 10 tahun berjalan mencatat sukses besar. Hilirisasi merupakan cara efektif untuk mendorong multiplier effect di sektor CPO.Indonesia punya potensi besar dan sudah membuktikan bisa sukses.

Hilirisasi tidak hanya mendorong kinerja industri pengolahan CPO, melainkan juga kinerja sektor hulu. Sebab, ketika hilirisasi dijalankan, hasil olahan bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi karena adanya nilai tambah.

Karena itu, dari industri perkebunannya juga tumbuh signifikan. Di sektor hulu, atau bahan baku berupa kelapa sawit tandanya besar segar (TBS) juga mulai menunjukan hasil yang menggembirakan dalam dua tahun terakhir, proses perencanaan kelapa sawit mulai menunjukan hasil.

Menurut laporan Gapki, ekspor minyak sawit Indonesia selama 4 tahun terakhir terus merosot. Gapki mencatat pada 2019 ekspor mencapai 37,4 juta ton. Lalu, turun menjadi 34 juta ton pada 2020 dan kembali turun menjadi 33,67 juta ton pada 2021.

Sepanjang 2022 pun, ekspor melanjutkan tren penurunan, yakni mencapai 30,8 juta ton atau turun 8,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, konsumsi sawit dalam negeri pada 2022 secara total mencapai 20,97 juta ton, lebih tinggi dibandingkan 2021 yang sebesar 18,42 juta ton. Konsumsi didominasi untuk industri pangan sebesar 9,94 juta ton atau lebih tinggi dari 2021 sebesar 8,95 juta ton dan lebih tinggi dari 2019 sebelum pandemi sebesar 9,86 juta ton.

Konsumsi untuk industri oleokimia mencapai 2,18 juta ton, naik dibandingkan 2021 sebesar 2,13 juta ton dan jauh lebih rendah dari kenaikan konsumsi 2019-2020 sebesar 25,4 persen dan 2018- 2019 sebesar 60 persen yang diduga berhubungan dengan situasi pandemi Covid-19.

Kemudian, konsumsi untuk biodiesel sepanjang 2022 mencapai 8,84 juta ton yang lebih tinggi dari konsumsi 2021 sebesar 7,34 juta ton.

Selain itu, jumlah perusahaan perkebunan sawit swasta dan BUMN tumbuh menjadi 1.320. Tumbuhnya industri CPO juga mendorong munculnya 750.000 unit usaha kecil menengah (UKM) yang menjadi supplier barang dan jasa.

Meski mencatat sukses besar, masih banyak hal yang mesti diperbaiki untuk mendorong percepatan hilirisasi CPO. Misalnya, dengan mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas seperti fasilitas logistik, serta penyediaan akses jalan dari pusat produksi darat/pedalaman ke pelabuhan ekspor.

Di samping itu, pemerintah juga harus memastikan tersedianya bahan baku untuk diolah industri hilir CPO. Caranya, dengan membatasi atau melarang ekspor bahan baku mentah untuk mencukupi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah produk. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri berupa 20% dari total produksi nasional sebenarnya bisa dipenuhi dengan regulasi dan pengawasan yang ketat terhadap para pelaku usaha di sektor persawitan.

Konkretnya, pro hilirisasi harus ditunjukkan dengan pengenaan tarif (bea keluar) yang semakin rendah untuk produk hilir.

Di sisi lain, prospek industri CPO tahun ini cukup cerah meski permintaan global belum sepenuhnya pulih. Tahun ini,  memperkirakan pasokan CPO dari Indonesia naik 3,3 juta ton untuk keperluan biofuel. Sedangkan harga CPO dan produk turunannya di pasar internasional juga bakal tembus USD 1.100 per ton. Karena itu, nilai ekspor CPO tahun ini bisa USD 24,2 miliar.

Agar lahan sawit tidak rusak, pemerintah mencabut moratorium pemanfaatan lahan gambut di kawasan hutan. Dengan begitu, lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk memperluas lahan kelapa sawit dan meningkatkan produksi CPO.

Lahan gambut yang ditanami kelapa sawit mereduksi hampir setengah emisi dibandingkan dengan gambut tropis atau sawah gambut. Yaitu di kisaran 31,40-57,06 karbon dioksida per hektare per tahun.Sampai saat ini perkebunan kelapa sawit di lahan gambut perawan hanya tiga persen, masih sangat kecil.

Tanaman sawit, tambah dia, bisa tumbuh subur di Indonesia. Minyak nabati di Eropa dan Amerika Serikat hanya mengandalkan tanaman seperti kedelai dan lainnya. Sudah terbukti kelapa sawit merupakan tanaman dengan produktivitas paling tinggi untuk mengisi permintaan dunia. Kebutuhan dunia 5-6 juta ton CPO. Itu hanya butuh sejuta hektare kebun sawit, kalau kedelai butuh 10 juta hektare.

Karena itu, wajar apabila negara-negara Eropa serta Amerika Serikat bahkan Cina terus melakukan kampanye hitam terhadap sawit Indonesia. Padahal, negara yang paling banyak melakukan deforestasi (penggundulan hutan) dan alih guna lahan gambut adalah Tiongkok dan Rusia. Jadi bukan Indonesia, karena Tiongkok dan Rusia lebih banyak.

Di tengah harganya yang melonjak, minyak sawit masih menjadi pilihan utama. Minyak sawit masih menjadi primadona dalam olahan pangan masyarakat. Selain untuk menggoreng, minyak sawit memiliki kandungan nutrisi yang bisa dimanfaatkan bagi olahan pangan lainnya. Ekstrak minyak sawit merah bahkan kaya akan vitamin A, omega 9, omega 6, omega 3, mengandung betakaroten dan vitamin E.

Dr Meika Syahbana Rusli, Kepala Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University pernah melakukan penelitian inovasi olahan pangan berbasis minyak sawit. Dalam rangka hiliriasi produk untuk mendorong peningkatan nilai tambah karena persentase kelapa sawit yang dapat diambil dan diolah sebagai minyak terbilang cukup besar.

Hasil limbah pengolahan juga dapat digunakan untuk energi. Minyak kelapa cawit/crude palm oil (CPO) memiliki potensi besar untuk diaplikasikan pada produk pangan unggul.Namun, kampanye negatif menimbulkan misinformasi bahwa CPO mengandung lemak trans jahat. Faktanya, CPO tidak mengandung lemak trans, bahkan kandungan nutrisinya dapat mendorong kesehatan dan nutrisi bagi manusia. 

Menurut Dr Meyka Rusli, minyak kelapa sawit dan turunannya dapat diolah menjadi bahan pangan berupa margarin, shortening, frying fat, coating fat, coffee whitener, pengisi susu, hingga krimmer biskuit. Seiring dengan peradaban yang semakin maju, bahan pembuat pangan olahan disediakan oleh produk hilir sawit.

Pada faktanya, produk-produk pangan yang ditemukan di supermarket itu banyak sekali yang mengandung dari sawit produk olahan asam lemak ataupun oleum dan stearin dari CPO.

Ditambahkan, aplikasi produk turunan CPO harus melewati proses rafinasi karena bahan penyusun produk pangan harus murni dan spesifik. Selain untuk memproses makanan, CPO juga digunakan sebagai sumber lemak dan kalori. Bila satu kilogram CPO diolah menjadi bahan baku untuk shortening dan margarin, nilai tambahnya tentu akan berlimpah

Tentu secara ekonomi bila industri pangan mengembangkan produk-produk ini dalam arti memproduksi olahan pangan di dalam negeri sendiri, akan lebih memberikan nilai tambah daripada semua CPO kita ekspor.

Ada beberapa inovasi yang dihasilkan dari olahan CPO di IPB University. Yakni bumbu rendang siap pakai berbahan dasar krimer sawit. Penggunaan krimer sawit ini sebagai krimer tiruan yang dibuat dari minyak nabati. Inovasi lainnya yakni high grade specialty fats dari sawit untuk produk coklat dan es krim pengganti lemak coklat. Sawit sebagai fat replacer juga dapat digunakan untuk membuat sosis sebagai pengganti lemak hewan. Gula sawit berbasis nira sawit juga memiliki nilai tambah. Aplikasinya telah diterapkan dalam proses pembuatan permen jahe.

Penerapan teknologi tepat guna dari hasil riset perguruan tinggi serta kolaborasi dukungan Pemerintah untuk mendorong hilirisasi minyak sawit tentu akan mendongkrak pendapatan nasional dan muara akhirnya adalah mensejahterakan para petani serta pelaku usaha sawit Indonesia.

Penulis adalah: Alumni Teknik Manjemen Industri Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *