Reflesikan Gerakan Mahasiswa

Oleh: Ali Murtono, ST

Di tahun politik ini, kalangan mantan aktivis Keluarga Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta mau tidak mau terpolarisasi dalam dalam berbagai kepentingan politik praktis yang ada di Indonesia. Ini tak lepas dari UII sendiri yang tak bisa dilepaskan dari sejarah kebangsaan dan kenegaraan Republik Indonesia. Tak pelak, founding father Bangsa Indonesia adalah dus sekalgus de fakto dan de yure pendiri Universitas Islam Indonesia.

Sehingga dalam perlintasan sejarah gerakan mahasiswa pun, out outnya (alumni) UII lahir karakter dan jatidiri dari pola pengembangan mahasiswa yang terlembagakan baik di organisasi intra dan ekstra kampus.

Secara sistem kelembagaan Keluarga Mahasiswa (KM UII) pun menganut sistem student goverment (Pemerintah Mahasiswa). Jadi dalam tiap jaman , lahir sistem yang dinamis sesuai konteks jamannya.

Maka sangat wajarlah lahirnya
Sejarah gerakan mahasiswa berĺanjut menjadi gerakan politik di tanah air dalam perlintasan sejarah kebangsaan sejak bangsa Indonesia lahir tidak bisa dipisahkan dengan pertemuan aliran berbagai aliran gerakan politik yang ada di Indonesia.

Padahal gerakan mahasiswa sebagai pressure group di belahan dunia manapun sebagai pilar kelima demokrasi (legislatif, eksekutif dan yudikatif) Untuk konteks Indonesia , gerakan mahasiswa serta militer dianggap penting setelah pers. Demokrasi dikawal secara bersama sebagaimana demos dan kratos. Dari dari rakyat òleh rakyat dan untuk rakyat. Adagium paling populer adalah suara rakyat adalah suara Tuhan( Fox Populli , Populi Dei).

Penyiapan kader-kader UII sebagai kampus swasta tertua di Indonesia sangat preventif. Seleksi ketat ini melahirkan out put yang bermacam-macam.

Tak bisa dipungkiri pelembagan gerakan mahasiswa UII sedari awal telah dilahirkan HMI oleh Prof Lafran Pane. Sebagai penguat kelembagaan mahasiawa intra kampus. Namun ketika era multipartai, juga mau tidak mau kampus yang juga ikut terlibat dalam ranah politik aekalipun bukan politik praktis (masuk dalam partai politik tertentu).

Namun karèna letak UII yang bergaul dengan berbagai kampus terkemuka di kota Jogjakarta melahirkan pertemuan besar multikulturalisne dan pluralisme yang berbeda-beda namun tetap dalam satu gerakan yang islami, berkemajuan (berkeadaban) sebagaimana citra diri lahirnya insan ulil albab.

Karena itulah kalau tidak ada penguasa otoriter dan koersif gerakan mahasiswa kehilangan isu. Apalagi dalam demokrasi liberal, organisasi kemahasiswaan (ormawa) terpolarisasi ke kutub lokomotif masing masing.

Di era paska reformasi, KAMI ke PKS , GMNI ke PDIP , PMII ke PKB sebagian di PPP dan juga karena melanjutkan estafeta di tahun 2000 baru sekitar 5850 alumni PMII dari UII , HMI kemana mana.
Karena itulah menjadi penting untuk merefleksikan sikap gerakan mahasiswa yang terpolarisasi ke banyak partai politik akhir-akhir ini.

Masuknya mantan aktivis-aktivis kampus ke dalam partai politiki ada plus minusnya. Hanya saja ormawa menjadi kehilangan medan pertarungan ide, gagasan dan iidealisme.

Pada sisi yang lain, kondisi partai politik mereka tidak.mampu.bersaing dengan elite parpol. Maka perlu dipikirkan jalan pragmatis ormawa utk bisa tampil di kancah isu nasional. HMI perlu mengangkat isu piagam jakarta misalnya.

Amandemen UUD 1945 Presiden beragama Islam karena mayoritas penduduk Indonesia peneluk agama Islam.
Adalah menjadi keprohatinan tersendiri bila kondisi komisariat gerakan mahasiswa di lingkungan kampus UII ada yang beberapakali mati suri ,karena banyak yg mau aktif.

Memang realitas mahasiswa sebaiknya dari senioritas ada yang mengingatkan ke bawahnya.udu dingatkan. Berjuang dan merawat ingatan melawan lupa ini di berbagai lini perlu digalakan, tapi tetap dalam bingkai persatuan, bahwa tongkat estafeta sejarah kepemimpinan itu tak bisa dilepaskan dan dipisahkan di berbagai lingkungan fakultas masing-masing.
Memang bila dahulu tak mudah mempersatukan berbagai kampus di empat kabupaten di Jogja.

Kondisi saat ini justru berbeda karena Pusat Cik Di Tiro sudah berpindah ke Kaliurang (Kampus terpadu).

Dahulu para aktivis berlomba lomba dari berbagai kampus merebut Cik Di Tiro. Sekarang dengan kampus terpadu, semua sudah integrated by sistem di Kaliurang 14,4. Ini sebenarnya makin mempermudah, seandainya kendala komunikasi semua sudah ada perangkat jaringannya masing-masing, tetapi jangan memaksakan diri, perlu keikhlasan dan ruang kesabaran.

(Penulis adalah mantan Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiwa UII, Yogyakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *