BUDAYA

PM Toh Si Tukang Cerita

Penapersatuan.com – Agus Nur Amal adalah seorang pendongeng dan seniman tutur yang berasal dari Aceh kelahiran 17 Agustus 1969. Seni mendongeng yang ditampilkannya terinspirasi dari seni tutur tradisional Aceh yang dibawakan oleh Adnan PM TOH. 

Dalam penampilannya ia berimajinasi dengan barang-barang yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Penampilannya tidak hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat.

Pria kelahiran Sabang, Aceh ini Almamater Institut Kesenian Jakarta. Menahbiskan diri sebagai seniman lebih tepatnya pekerja seni dengan menggunakan perabotan rumah tangga.

Pada tahun 1990-an yang saat itu masih pada masa Orde Baru, ia cenderung mengambil tema sosial-politik, seperti Jenderal Puyer Bintang Tujuh, yang menyindir korupsi di kalangan perwira tinggi militer, Hikayat Polisi dan Bandit, yang berisi kisah satire perihal batasan moral penegak hukum dan para bandit.

Setelah reformasi, ceritanya bergeser ke tema yang jarang diperhatikan orang dan mengajak berpikir alternatif seperti lakonnya yang berjudul Jiwa Laut.

Saat konflik Aceh di penghujung 1990-an, ia giat mementaskan karya yang menggugah kesadaran atas hak-hak masyarakat sipil. Pasca tsunami Aceh tahun 2004, ia menampilkan pertunjukan keliling TV Eng Ong ke kamp-kamp pengungsian. Pertunjukan itu berupa set televisi, yang dipakai untuk memancing pemirsa bercerita.

Pendidikan:

D3 Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (1990).

S1 Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (2000).

Pertunjukan teater keliling Tv Eng Ong ke kamp pengungsi tsunami Aceh (2006-2007).

Solo performance di Japan Foundation, Tokyo, Jepang (Juli 2007).

Pameran Tunggal Jendela PM Toh, RURU Gallery, Jakarta (Februari 2009).

Pertunjukan TV Eng Ong di Goethe Institute, Boston, Amerika Serikat (Mei 2010).

Pertunjukan bersama Komunitas Geunta Aceh di Shanghai Expo, Tiongkok (Juli 2010).

Jakarta-Berlin Arts Festival, Berlin, Jerman (Juni 2011).

Pembicara dalam konferensi Object Theater Network di Nottingham, Inggris (Desember 2011).

Pameran Tunggal Hidangan dari Langit, RURU Gallery, Jakarta (Mei 2015).

Jiwa:Jakarta Biennale 2017 (November 2017). 

Nama panggung itu diambil dari nama gurunya selama belajar ‘story telling’ di kampung halamannya, Aceh.

Ia lulus dari IKJ pada tahun 1994 sebagai seorang pemain teater. Namun ketika pulang ke kampung halaman, ia menemukan ketertarikan pada ‘story telling’ dan hingga kini menekuni hal ini dengan menjadi seorang pendongeng ternama.

Dari kesenian berdongeng, ia banyak melakukan hal-hal besar seperti merangkul anak-anak remaja yang gemar bentrok antar sekolah.

Di tangan PM TOH, dongeng bukan lagi konsumsi anak-anak, namun mampu menyentuh seluruh lapisan manusia tidak sekedar menghibur namun juga membangun dan menciptakan ide kreatif baru.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *