KH Wahab Hasbullah Founding Father NU

Penapersatuan.com – Tokoh utama lain pendiri NU adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971). Beliau lahir pada bulan Maret 1888 di Tambak Beras Jombang. Beliau dikenal sebagai kiai yang cerdas, dinamis, intelek, sekaligus pejuang yang ikut bertempur melawan Belanda dan Jepang. Ia adalah putra pasangan Kiai Chasbullah dan Nyai Lathifah. Keluarga Hasbullah adalah pengasuh Pesantren Tambak Beras dan masih punya hubungan kekerabatan dengan K.H. Hasyim Asy’ari. (YSZ, 1994:135).

Sepeninggal istri pertamanya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1921, Kiai Wahab menikah lagi dengan Alawiyah putri Kiai Alwi. Istri kedua inipun meninggal setelah dikaruniai seorang anak. Sesudah itu, Kiai Wahab pernah menikah tiga kali namun tidak berlangsung lama dan tidak dikaruniai putra. Kemudian ia menikah dengan Asnah, putri Kiai Said dari Surabaya dan dikaruniai 4 orang anak, salah satunya K.H.A. Wahib Wahab (Mantan Menteri Agama RI).

Setelah Asnah meninggal, Kiai Wahab menikah kembali dengan Fathimah, tapi tidak dikaruniai putra. Tapi, Fathimah membawa seorang anak yang bernama K.H. Ahmad Syaichu. Setelah itu beliau menikah kembali dengan Masmah dan memperoleh seorang anak.

Kemudian ia menikah dengan Ashlikah, putri Kiai Abdul Madjid dari Bangil dan memperoleh 4 orang anak. Terakhir, Kiai Wahab memperistri Sa’diyah (kakak Ashlikhah) setelah Ashlikah meninggal, dan mempunyai 5 anak, sampai akhir hayatnya pada tahun 1971. (YSZ, 1994:135-136).

Bekal pendidikan Kiai Wahab sejak kecil diberikan sendiri oleh ayahnya. Baru setelah dewasa ia berkelana dari pesantren ke pesantren. Di antaranya Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Mojosari, Pesantren Cepoko Nganjuk, Pesantren Tawangsari Surabaya, Pesantren Kademangan Bangkalan dan langsung berguru kepada Kiai Cholil, kiai kharismatis yang juga guru K.H. Hasyim Asy’ari.

Pada usia 27 tahun ia meneruskan berguru ke Mekah kepada Kiai Mahfudz Al-Tarmasy, Syaikh Achmad Khatib, Kiai Bakir Yogyakarta, Kiai Asy;ari Bawean, Syaikh Said Al-Yamani, Syekh Umar Bajjened, dan lain-lain. (ibid: 136-137).
Seperti disinggung di atas sejak pulang dari Mekah bersama Kiai Mas Mansur, Kiai Wahab membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar di Surabaya pada tahun 1914.

Pada tahun 1916 mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan, juga bersama Kiai Mas Mansur. Pendirian madrasah ini mendapat dukungan dari ulama-ulama lain. Di kalangan pemuda dibentuk Syubbanul Wathan, yang di dalamnya terdapat tokoh muda seperti Abdullah Ubaid. Ia juga berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional lain seperti Soetomo dalam Islam Studie Club yang didirikannya bersama kaum terpelajar lain. (Ibid.138-139).

Peran paling besar Kiai Wahab adalah saat menjelang pendirian NU pada tanggal 31 Januari 1926. Ia mengajak musyawarah di rumahnya ulama-ulama senior dan tokoh-tokoh Komite Hijaz seperti Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Bisri Sansuri dari Jombang, Kiai Ridlwan dari Semarang, Kiai Asnawi dari Kudus, Kiai Nawawi dari Pasuruan, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Alwi Abdul Aziz Surabaya, dan lain. Pertemuan itu kemudian menorehkan sejarah kelahiran Jamiyyah Nahdlatul Ulama yang mempertahankan akidah Ahlussunah Wal Jamaah dan Mazhab Empat. (Ibid., 140).

Nama NU sendiri diusulkan Kiai Alwi Abdul Aziz dari Surabaya. Sementara pencipta lambang adalah Kiai Ridlwan dari Surabaya. Kiai Wahab sendiri tidak bersedia menjadi Rais Akbar dan merasa cukup menjadi Katib Am (Sekjen) dalam organisasi ini. Jabatan tertinggi diserahkan kepada tokoh kharismatik dari Jombang, Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

Selanjutnya kiprah perjuangan Kiai Wahab banyak sekali mewarnai perjalanan NU dari masa ke masa. Momen-momen penting dalam NU dalam percaturan politik nasional sangat diwarnai peran kiai ini.

KH. Zulfa Musthofa, dalam Haul ke 51 Mbah Wahab, mewakili Gus Yahya yang berhalangan hadir. Beliau membawakan beberapa syi’ir karangan beliau sendiri, yang berisi bahwa Mbah Wahab ini adalah ulama yang mata rantai keilmuannya sambung dengan Syekh Nawawi Al-Bantani, bersama dengan ulama’ Nusantara lainnya.

“Gus Yahya dalam buku itu (PBNU) menyebut KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah Wali Peradaban. Karena memang luar biasa, Mbah Wahab itu pada masanya sudah berfikir jauh bahwa peradaban kehidupan manusia itu terus berubah. Maka itulah kemudian mendirikan Taswirul Afkar, kemudian Nahdlatul Wathon, kemudian Nahdlatul Tujjar sampai akhirnya Komite Hijaz dan Nahdlatul Ulama’, itu karena beliau ingin membuat sebuah organisasi yang membawa misi peradaban, ingin dunia ini hidup dalam tata kehidupan yang baru, yang harmonis, penuh penghargaan, penghormatan terhadap sesama manusia dalam kesetaraan. Luar biasa Mbah Wahab ini.” Sambung beliau. 

Kesan mendalam mengenai Mbah Wahab KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwwafik) Beliau menyampaikan bahwa Mbah Wahab menciptakan Lagu Ya Ahlal Wathon itu bukan omong kosong, Lagu yang berisikan cinta tanah air itu adalah sebagian dari iman. Buktinya adalah kegiatan kegiatan santri yang luar biasa, termasuk Haul ini, dengan acara seperti pasti roda ekonomi berputar. Ziarah para wali dan para guru pun juga sebagai bentuk dasar cinta tanah air, karena dengan ini, santri akan mengenal dan mencintai tanah dimana para Kyai dimakamkan, tidak mungkin santri berani meneror atau mengebom karena takut dan tawadhu pada Kyai yang dimakamkan di daerah tersebut. Begitu juga dengan kepatuhan santri terhadap kebijakan negara sebagai bentuk rasa cinta tanah air mereka. Beliau memberikan banyak gambaran tentang rasa cinta tanah air santri. 

Santri juga punya tugas merawat bangsa dengan berbagai ajaran tradisi yang ada melalui haul, maulid, tahlilan, bahkan ada hari- hari istimewa di bulan Hijriah (Qomariyah) sebagai bentuk menjaga bangsa ala santri “Kebersamaan ini perlu dijaga, sebagai strategi kebudayaan dan keagamaan.Ini warisan para wali dan auliya dari Jaman Wali Songo untuk merawat kehidupan dan peradaban, sambung Gus Muwwafik.

Beliau juga dikenal sebagi perintis tradisi intelektual NU dan pernah menerbitkan majalah tengah bulanan Suara Nahdlatul Ulama yang dipimpinnya sendiri. KH Wahab Hasbullah wafat 29 Desember 1971 dan di makamkan di kompleks Ponpes Tambak Beras,Jombang Jawa Timur.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *