Peringatan Haul Ke-13 Angkat Perjuangan dan Pembaharuan Gus Dur Memimpin NU


Jakarta, penapersatuan.com – Haul ke-13 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang digelar malam Minggu (18/12) mulai pukul 19.30 WIB, tak hanya diikuti jamaah dan undangan yang hadir di Ciganjur, Jakarta Selatan saja. Namun, juga akan diikuti dari enam pesantren di lima provinsi.

Keenam pesantren itu adalah tempat digelarnya Muktamar NU dan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama, saat Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU dalam kisaran waktu 1984 hingga 1999.

Ketua Panitia Haul Alissa Qatrunnada Wahid, menyebutkan, ditunjuknya keenam pesantren tersebut, merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali spirit ke-NU-an Gus Dur, sebagai model dan teladan bagi generasi saat ini.

Acara haul di mulai sekitar pukul 20.30 WIB ada sesi pembacaan tahlil yang dipimpin Katib Syuriyah PBNU KH Said Asrori, dan diikuti jamaah santri dari enam pesantren. Sebenarnya, ada satu lagi pesantren yang menjadi lokasi Munas Alim Ulama NU, yakni Pondok Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah. Munas di Pesantren ini digelar pada 23-26 Rabiul Awal 1408 H / 15-18 November 1987 M.

Mana saja, keenam pesantren yang akan ikut tahlilan Haul ke-13 Gus Dur malam ini? Apa kaitannya dengan Gus Dur dan Pembaharuan NU? Berikut daftarnya!
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, tempat Muktamar ke-27 Nahdlatul Ulama, tahun 1984 dan Lokasi Munas Alim Ulama tahun 1983. Di pesantren ini lahir keputusan NU kembali ke khittah 1926 dan penetapan Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di muktamar ini pula, Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Dari sinilah Gus Dur mulai melakukan pembaruan NU secara struktural.

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, tempat Muktamar ke-28 Nahdlatul Ulama, tahun 1989. Di Muktamar Krapyak ini mulai terasa nafas pembaharuan yang digerakkan Gus Dur. Muncul perdebatan yang dinamis sebagai respons atas beberapa gagasan dan tindakan Gus Dur yang kritis. Di antaranya mengganti ucapan assalamualaikum dengan selamat pagi, siang, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Jawa Barat, lokasi Muktamar ke-29 Nahdlatul Ulama tahun 1994. Ini adalah muktamar yang monumental dan fenomenal. Hasil 10 tahun Gus Dur memimpin pembaharuan NU diuji di sini. Di muktamar ini, terjadi pertarungan kekuatan civil society berhadapan dengan kekuatan hegemoni negara.

Kemenangan Gus Dur dalam muktamar tersebut merupakan simbol kemenangan civil society, sekaligus cermin keberhasilan Gus Dur melakukan pembaruan di NU.
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, lokasi Muktamar ke-30 Nahdlatul Ulama tahun 2000. Muktamar di Lirboyo dilakukan saat Gus Dur menjadi presiden. Artinya muktamar ini diselenggarakan NU ketika berada di pusat kekuasaan.

Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung Timur, lokasi Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU tahun 1992. Munas di Lampung ini merupakan bagian penting dari konsolidasi pembaharuan NU yang dilakukan Gus Dur. Isu demokrasi, HAM dan kekuatan masyarakat sipil dibahas dalam Munas Lampung ini. Di munas ini, juga ditetapkan Pancasila dan NKRI sebagai ideologi dan bentuk negara yang final.

Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, lokasi Munas/Konbes NU tahun 1997. Pembaruan NU yang dilakukan Gus Dur semakin terlihat jejaknya dalam munas di NTB ini. Isu kontemporer yang berkembang saat itu, dibahas secara mendalam termasuk isu demokrasi, HAM dan kesetaraan gender. Salah satu keputusan Munas NU di NTB adalah pengakuan atas kesetaraan hak lelaki dan perempuan.Inaya Wahid, menjadi salah satu pengisi acara dalam acara peringatan Haul ke-13 Gus Dur dan Pembaharuan NU yang digelar di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu (17/12/22).
Inaya menampilkan monolog dengan karakter Mbok Bakul Sarung dan membawakan materi penuh sindiran kepada para politisi. Sesekali ia juga membeberkan sikap ayahnya Gus Dur semasa menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Sikap Gus Dur disebut istikamah kere (miskin) baik sebelum dan setelah menjadi presiden. Lawakan tersebut disambut tawa terbahak-bahak oleh para tamu undangan.

“Kalian bisa enggak kayak gitu (istikamah kere)? Kalian jangankan jadi presiden, baru jadi ketua partai aja lagaknya sudah sombong, maunya dapat segala macam padahal partainya saja colongan,” celetuk Inaya. “Udah gitu nyopras-nyapres, nyopras-nyapres, enggak pernah kepilih. Nyapres kok hobi?,” tambahnya.

Para tamu undangan sontak tertawa dan memberikan tepuk tangan sepanjang penampilan Inaya. Ia juga membahas salah satu kebiasaan masyarakat yang kerap komplain jika para politisi yang mendapat jabatan tidak bekerja sesuai harapan rakyat, padahal fenomena asal pilih calon pemimpin hanya karena diberikan uang masih kerap terjadi.
“Kalau kalian sudah jadi presiden terus terakhirnya komplain, kok ini masih kayak gini? Kok dia masih kayak gitu? Nanti apa, kalian tinggal ngomong. Padahal kalian saja harganya Rp 100.000 kok minta presiden yang berkualitas? Kamu tuh” katanya.

Kemudian ia melanjutkan dengan mengutarakan sifat ayahnya semasa hidup yang selalu mengingat rakyat, namun tidak mengingat anak-anaknya.
“Perbedaan kalian dengan Gus Dur, mau tau enggak perbedaannya apa? Gus Dur selalu ingat rakyat. Gus Dur jadi presiden ingatnya rakyat, enggak ingat anak-anaknya. Wong sebelum jadi presiden aja enggak ingat anaknya, apalagi pas jadi presiden,” ucap Inaya.
Cerita Bola

“Gus Dur itu waktu turun ya tergantung ini turun sendiri atau diturunkan. Aku percaya diturunkan, itu tetap yang diingat karena rakyat. Kalau kalian sing jadi presiden iki kamu, anakmu, keluargamu dapat apa, jadi apa, istrinya yang satu jadi lebih, hartanya ganti balik nama, ke sini ke situ. Kalau Gus Dur enggak, tetap ingat rakyat,” ujar Inaya.

Kemudian dalam lawakannya ia menyebutkan Gus Dur merupakan presiden namun bisa menjadi orang biasa. Inaya memberikan analogi orang biasa yang mendapatkan wahyu maka disebut nabi, sedangkan Gus Dur mendapatkan wahyu namun Wahyu Muryadi makanya hanya menjadi presiden.

“Itu pun jadi presidennya cuma sebentar, karena modal dengkul. Itu pun bukan dengkulnya Gus Dur, tetapi dengkulnya Pak Amin Rais,” katanya sambil menunduk ke bawah.

Peringatan Haul Ke-13 Angkat Perjuangan dan Pembaharuan Gus Dur Memimpin NU itu dihadiri oleh keluarga besar Gus Dur seperti Hj Sinta Nuriyah (istri alm) , putri dan cucu Gus Dur serta kolega sahabat , pengurus PB NU yang tampak hadir di Ciganjur.

Dalam acara puncak haul juga tampil membawakan sholawat, Veve Zulfikar, sambutan Hj Sinta Nuriyah,KH Yahya Chklil Staquf, dan KH Mustofa Bisri.
Acara ini ditutup dengan doa oleh KH Nasaruddin Umar, Imam Masjid Istiqlal Jakarta.

Salah satu tokoh NU yang juga mantan Menteri Agama Luqman Hakim Syaifudin menyinggung kiprah Gus Dur dan kamanusiaan.

Menurut Luqman, Presiden RI ke-4 itu semu ada di hati para santri. “Saya pikir mengenang Gus Dur selalu kita mengenal NU, mengenal santri, mengenal pesantren, mengenal Indonesia dan mengenal kemanusiaan. Karena Gus Dur adalah sosok yang selalu punya kiprah tersendiri,” katanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang juga hadir di acara haul menuturkan sangat diperlukan sosok pengganti orang seperti Gus Dur.
Salah satunya untuk memberikan buah pemikiran soal politik kebangsaan.
Emil mencontohkan soal political incorrectnes seperti yang terjadi di sejumlah negara.

“Itu yang secara politik terkesan baik, atau terkesan betul, tetapi akhirnya membuat kita permisif terhadap hal-hal yang menggerus sendi, nilai kita ditengah masyarakat kita,” kata diam.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *