Jihad Digital

Oleh: Aji Setiawan

Era digital yang semakin cepatnya dalam akses memperoleh sebaran informasi serta ekosistem tidak saja dunia global namun dalam kontek lokal kini semakin melek digiital. Peradaban global yang dicita-citakan menciptakan kedamaian, keteraturan dan ujungnya kesejahteraan sebagaimana cita-cita masyarakat ideal.

Namun gambaran dan mimpi masa depan tentu banyak juga kendalanya, di mana peoses transformasi era digital ini perlu filter dari budaya yang berbeda.
Peradaban global yang makin kanibal, free market, big consumtif akan memakan diri sendiri.

Over consumtif yang tidak dibarengi produktifitas akan melahirkan kesenjangan bukan saja krisis pangan, perubahan iklim, morality sehingga perang global yang sampai hari ini mengunci pada perang urat syaraf (psikowar) baik lini militer dan tentu saja mengakibatkan resesi global economic tentu mengajak sebagian dari kita untuk mempunyai kesungguhan berjihad dalam
globalI wasathiyah (jalan tengah berdakwah) di era modern teknologi dan lonjakan globalisasi informasi yang semakin cepat (faster).

Untuk memasuki pradaban global, tentu butuh persiapan dengan apa, arahnya mau kemana , caranya bagaimana dan butuh biaya berapa?

Dalam rangka memperkuat kemampuan dan mengimbangi dakwah di era digital tersebut, perlu merebut kalangan milenial agar diselamatkan. Kurang lebih kalangan muda ini jumlahnya mendekati 1/3 dari total populasi manusia.

Untuk menfilter budaya yang tidak sesuai itu, harapannya adalah tinggal bagaimana menebar nilai-nilai agama bisa tetalp eksis.Tentu butuh sentuhan dan garapan sendiri dimana saat ini masih banyak ciptaan sebaran hoax serta narasi ekstremisme di media sosial.

Ini baiknya dan harus ditangani dengan meramaikan konten-konten positif, khususnya Islam wasathiyah. Budaya tanding atas budaya dan peradaban yang tidak sesuai itu harus diimbangi dengan konten positif yang tidak sekedar narasi dan paradigma ilmu menjadi literatur pengetahuan, namun perlu ditingkatkan dengan contoh-contoh keteladanan tentu ini adalah pesan positif yang menyejukan dan menenangkan sebagai lawan tanding kegelisahan, anarkisme. brutalisme , ketakutan, kecemasan dunia global yang sudah mendekati akhir dari sejarah.

Media sosial merupakan platform bagi mujahid digital untuk berdakwah. Oleh sebab itu, perlu kader yang terlatih, dikhususkan untuk kaum milenial, yang umumnya telah terbiasa dengan dunia digital. Dalam bermedia sosial, tolok ukur sederhana untuk menilai baiknya sebuah konten adalah adanya kecocokan antara hati dan akal pikiran yang sehat.

Maka dari itu, berjihad di era digital dituntut mampu menyeleksi dan memvalidasi konten yang diterima ataupun diproduksi. Bahkan pesan positif, solusi atas tantangan global, perlu diimbangi lahirnya konten-konten kreatif, inovatif yang akarnya justru banyak bertumbuhan di konten-konten lokal.

Seiring adanya perubahan paradigma dan maka dipandang perlu orientasi dakwah dan cara baru berdakwah di medsos. Peran berjihad di era digital, salah satunya adalah menjembatani dan mendekatkan alim ulama dengan masyarakat.

Kemampuan ini diperlukan, sebab ajaran Islam yang diajarkan para ulama mana kala disampaikan kepada masyarakat luas, harus dikemas dengan narasi sederhana dan mudah dipahami.

Kesakralan Islam yang diajarkan guru-guru kita, harus disampaikan juga kepada khalayak ramai. Kaum milenial punya peran di sini untuk menyampaikan narasi keagamaan yang mudah dipahami oleh orang awam.

Penguatan Islam wasathiyah di dunia digital khususnya di media sosial adalah tumbuhnya kaum milenial sebagai generasi muda penerus bangsa. Selamatnya generasi muda, akan mempermudah alih estafeta ke kaum muda untuk mengemban tugas untuk berperan dalam meramaikan dunia digital dengan konten-konten positif Islami yang mengedukasi.*

Penulis adalah Wartawan konten Islami berbagai media, tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.