KH. Ahmad Mudatsir Idris, Legenda PPP Banyumas

Jakarta, penapersatuan.com – Selain KH. Saifudin Zuhri, ada banyak tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Banyumas, seperti KH. Mussalim Ridho, sampai KH. Ahmad Mudatsir Idris.

Kyai Mudatsir adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, wafat dua tahun yang silam, tepatnya 2020 pada usia 75 tahun.

Warga Nahdliyyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Mudatsir Idris adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela Nahdlatul Ulama (NU).

Tokoh kelahiran 1945 ini tumbuh dan dibesarkan dilingkungan pesantren. Mudatsir kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KH. Idris. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musatsir mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak.

Selain mengaji ilmu agama, Musatsir muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD).
Setamat SR, pemuda Mudasir melanjutkan nyantri ke Pesantren Leler Banyumas, Jawa Tengah di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH. Hisyam Zuhdi, ayah KH. Zuhrul Anam (Gus Anam).

Selain mondok di Leler, KH. Mudatsir Idris juga mengaji dengan KH. Hisyam Karim, Kalimantan Kecamatan Karanganyar, Purbalingga. Sepulang nyantri dari Leler (Banyumas) dan Kalijaran (Purbalinggq), Kiai Mudatsir mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai pengurus Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam PPP. Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Pondok Pesantren Sabilul Sahabat, Jatilawang-Banyumas.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Sampai jelang akhir hayatnya ia masih tercatat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Cabang PPP Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

KH. Mudatsir Idris mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blokosuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, mligi, jujur apa adanya sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Singa Podium dari Banyumas ini setiap malam mengisi pengajian baik acara Maulidan, khataman santri Pondok Pesantren sampai hajatan. Memang gaya ceramah dengan bahasa ngapak yang ful penuh  guyonan membuat jamaah betah mendengarnya walau hingga larut malam.

Dalam semalam, ia biasa mengisi 2 sampai tiga tempat sekaligus pengajian. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam berdakwah. Dengan mobil Kijang atau sedan (dulu malah yang nyetir, sang Istri), sungguh keluarga pejuang dakwah yang tangguh.

Demikian halnya dengan KH. Mudatsir Idris. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Mudatsir adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KH. Ahmad Mudatsir Idris telah berpulang ke hadirat Allah, Jumat (18/9/2020). Jenazah almarhum dikebumikan di komplek pemakaman tak jauh dari Pondok Pesantren Sabilus Sa’adah Desa Bantar, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.

(Aji Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.