Sang Insan Kamil

Oleh: Aji Setiawan

Bulan Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.Tepatnya pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 570 Masehi silam. Nabi Muhammad SAW merupakan nabi utusan Allah SWT, sang insanul kamil, manusia paling sempurna.

Insan kamil secara harfiah dapat diartikan sebagai manusia yang sempurna. Insan kamil ialah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama-nama dan sifat Tuhan secara utuh. 

Sedangkan secara istilah insan kamil bermakna sebagai manusia yang sempurna secara sifat bukan fisik. Ciri-ciri insan kamil sifat Nabi Muhammad SAW ada empat, yaitu: shiddiq (jujur), amanah (dipercaya), fatonah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan risalah). 

Tentang kemuliaan dan kesempurnaan akhlak Nabi SAW, Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam QS Al Ahzab;21: ” Laqad kāna lakum fī rasulillāhi uswatun hasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kasīrā.” Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al Ahzah Ayat 21).

Artinya, “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman” (QS. At-Taubah [9]: 128). 

Pada ayat di atas, Allah swt menggambarkan beberapa poin, sifat, dan karakter mulia nan agung yang terdapat dalam diri Nabi Muhammad, yaitu; (1) min anfusikum; (2) azizun; (3) harishun; (4) raufun; dan (5) rahimun.   

Pertama, min anfusikum (dari kaummu sendiri). Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitab tafsirnya mengatakan, ayat ini menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan Allah yang sama-sama manusia biasa, sebagaimana manusia pada umumnya. Hal ini perlu ditegaskan untuk menepis anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa ia berasal dari jenis malaikat, sehingga semua tapak-tilasnya tidak bisa dijadikan teladan.

Kedua, azizun (berat terasa olehnya). Potongan ayat ini menjadi sebuah bukti betapa besarnya cinta Nabi Muhammad kepada umatnya. Semua kesengsaraan, kesusahan, kepayahan dan musibah-musibah lain yang dirasakan umatnya, turut dirasakan Rasulullah. Bahkan, sebelum semua musibah dan derita itu dirasakan oleh mereka, ia sudah merasakan terlebih dahulu.   Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi (wafat 1270 H), dalam tafsirnya mengatakan, semua beban dan kesengsaraan yang dirasakan oleh umatnya, juga menjadi beban kepada Rasulullah. Dengan lain, semua penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan umatnya, juga dirasakan dan menjadi kesengsaraan bagi Rasulullah.

Ketiga, harishun (sangat menginginkan keimanan). Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Hasan bin Husain at-Taimi, atau yang dikenal dengan julukan Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H), dalam kitab tafsirnya mengatakan, potongan ayat di atas memiliki arti bahwa dalam diri Rasulullah terdapat keinginan yang sangat tinggi untuk bisa memberikan kebaikan kepada semua umat manusia, dan membersihkan segala kesyirikan dalam diri mereka.

Keempat dan Kelima, raufun rahimun (penyantun dan penyayang). Setelah pribadi Nabi Muhammad disebutkan sebelumnya, pada penutup ayat terakhir, Allah menegaskan bahwa ia merupakan nabi dan rasul yang sangat santun dan penyayang. Hal ini tidak lain kecuali sebagai pengejawantahan paling tepat sebagai representasi dari pribadinya sebagai manusia penebar kasih sayang dan kedamaian.

Di bulan Rabiul Awal ini diperingati maulid (riwayat kelahiran) dengan Pengajian , Sholawat, pembacaan Maulid untuk mengenang kelahiran sang insanul kamil, yang berakhalaqul karimah dan dengan meneladani sifat-sifat beliau untuk berharap keberkahan dalam kehidupan.

(Aji Setiawan, mantan wartawan alKisah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.