Seluruh Ormas yang Ada di Tanah Abang Sepakat dan Minta Pemerintah DKI Agar SCBD-CFW Dihentikan

Jakarta, penapersatuan.com | Fenomena Citayam Fashion Week (CFW) yang tengah viral di kalangan masyarakat, kini menuai pro dan kontra. Selain membuat macet kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, kegiatan tersebut juga mengganggu masyarakat sekitar.

CFW sebagai ajang berkumpulnya remaja yang datang untuk mengekspresikan gayanya lewat dandanan juga pakaian mereka kini meresahkan sebagian masyarakat. Pasalnya CFW juga menjadi ajang tempat berkumpulnya LGBT yang berani mengakui secara terang-terangan penyimpangan mereka.

Melihat fenomena tersebut, Organisasi Masyarakat yang ada di Tanah Abang dan tergabung dalam Rumah Guyub Tenabang (RGT) mengambil sikap tegas. Menolak kegiatan CFW tersebut.

RGT pada Rabu malam, (27/7/2022) mengundang 47 Ormas yang ada di Tanah Abang. Sekitar kurang lebih 125 tokoh masyarakat yang mewakili dari 47 Ormas hadir dalam acara rapat koordinasi menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam.

Pertemuan yang digelar di Restoran Kampuang Minang, Jl. KH. Mas Mansyur, Jakarta Pusat tersebut selain mempersiapkan kegiatan acara 1 Muharam sekaligus menghasilkan sebuah pernyataan sikap dari seluruh ormas yang bernaung di RGT dengan isi pernyataan sebagai berikut;

Pertama, Kami keluarga besar RGT dan masyarakat Tanah Abang menolak kegiatan SCBD-CFW yang menyimpang dari norma-norma masyarakat Tanah Abang.

Kedua, Meminta kepada Pemerintah DKI Jakarta agar menindak atau menegakkan Undang-undang No 22 Tahun 2019 tentang lalu lintas.

Ketiga, Menolak ajang SCBD-CFW dijadikan ajang berkumpulnya LGBT secara terang-terangan.

Dalam acara tersebut juga hadir Ketua Umum RGT H. Heru Nuryaman dan Sekretaris RGT Albert Roberto yang juga selaku Ketua Umum IKBT.

Menurut M. Sanusi Flamboyan, inti dari pertemuan tersebut selain persiapan menyambut 1 Muharram sekaligus menolak kegiatan CFW dan meminta Pemda untuk dapat menghentikan kegiatan tersebut.

“Pada malam Tahun Baru Islam nanti, 42 Ormas yang bernaung di RGT, akan melakukan pawai obor akan melintasi lokasi SCBD di Dukuh Atas,” terang Sanusi Sekretaris DPC Forkabi Tanah Abang yang hadir bersama Ketua DPC Forkabi Tanah Abang, Mahdi Usman.

Sanusi menjelaskan, pada acara tersebut para Ketua Ormas di Tanah Abang menyampaikan pandangannya yang secara umum sama. Menolak kegiatan SCBD-CFW tersebut.

“Semua yang hadir menolak, karena ajang tersebut juga dimanfaatkan oleh para LGBT atau kaum para tulang lunak. Selain itu, acara tersebut juga tidak tertib, bikin gaduh dan dan juga meninggalkan banyak sampah di lokasi,” sambungnya.

Berkumpulnya 42 Ormas yang bernaung di RGT juga melahirkan program dan mungkin akan menginisiasi kegiatan serupa yang terorganisir, tertib dengan tetap mengedepankan norma-norma yang ada di masyarakat.

“Kita berharap kedepannya, inisiasi yang muncul dalam acara ini bisa dilakukan oleh RGT dengan melibatkan para pemilik toko dan desainer yang membuka toko di pasar Tanah Abang,” tutur Sanusi Flamboyan.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Pusat Kombes Komarudin juga mengatakan, fenomena Citayam Fashion Week di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, berdampak pada kemacetan lalu lintas.

“Pantauan kami, ekor kemacetan itu berada di Semanggi bahkan ke kawasan Senayan,” ujar Komarudin, di Mapolres Metro Jakarta Pusat.

(Fadiel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.