Melihat Ukraina dalam Kacamata Global Politik

PENAPERSATUAN – Pertanyaan besar dari konflik Perang Ukraina dan Rusia yang melibatkan perang Global dibahas secara intens oleh Program Studi Hubungan Internasional (PSHI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kuliah umum dengan mengundang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Ukraina untuk Republik Indonesia, H.E. Dr. Vasyl Hamianin dalam kegiatan Ambassadorial Lecture yang bertajuk “The Ukrainian Questions in Global Politics”.

Kegiatan yang digelar di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakir UII, pada Senin (18/2) di Yogyakarta, dilaksanakan dalam rangka Diplomatic Course yang setiap tahun dilaksanakan oleh PSHI UII. Kuliah Duta Besar Ukraina ini dihadiri 400 orang peserta yang berasal dari kalangan sivitas akademika UII serta masyarakat umum, dengan harapan para peserta yang hadir dapat lebih memahami permasalahan Ukraina secara objektif dan berimbang.

Kuliah Duta Besar Ukraina dibuka dengan sambutan dari Rektor UII, Prof. Dr. Fathul Wahid, M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Fathul Wahid menyebutkan bahwa sejalan dengan pemerintah, UII selalu berkomitmen menjalankan amanat konstitusi UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia.

UII juga bersimpati atas krisis kemanusiaan yang muncul di Ukraina sebagai konsekuensi dari adanya perang yang berkelanjutan. Rektor UII juga menyatakan bahwa dunia harus mengecam segala bentuk agresi yang mengancam kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Vasyl Hamianin dalam kesempatannya menyatakan bahwa invasi yang saat ini terjadi tidak lepas dari keinginan Rusia membangun kembali kerajaan Rusia yang pernah ada beberapa abad silam. Jika dilihat dari konteks modern, invasi Rusia ini juga bertujuan untuk membangun kembali Uni Soviet yang bubar pada tahun 1991.

Ia menyampaikan, bahwa hancur nya Uni Soviet saat itu tidak terlepas dari perbedaan kultur, wilayah dan bahasa penduduknya sehingga 15 negara memilih berpisah dan merdeka dari Uni Soviet.

Untuk melihat invasi Rusia ini, Vasyl Hamianin menyebutkan pentingnya melihat konflik ini secara luas tidak hanya pada konteks kolonialisisasi dan demokratisasi yang akan menjadi awal perang dunia ketiga. Namun perlu melihat konflik ini dari sisi kemanusiaan. Jika orang tersebut tidak memiliki kemanusiaan maka jangan datang di komunitas global.

Ia menyampaikan bahwa setiap orang boleh menyukai Ukraina atau menyukai Rusia. Jika berbicara tentang invasi ini, maka semua orang harus memberikan dukungan kepada Ukraina sebagai bagian dari kemanusiaa. “Bukan hanya tentang netralitas dan keberpihakan tapi juga tentang kemanusiaan dan perang,” ujar Vasyl Hamianin.

Menurut Vasyl Hamianin, untuk melawan invasi ini, pemimpin dunia tidak hanya memiliki opsi militer namun juga bisa digunakan dengan sanksi ekonomi kepada Rusia.

“Kunjungan negara-negara berpengaruh di Ukraina akan menciptakan kestabilan untuk menekan ekonomi Rusia. Sanksi ekonomis juga harus diterapkan karena setiap dolar yang masuk ke Rusia membiayai peperangan mereka,” ujarnya.

Pentingnya sanksi ekonomi tidak terlepas dari besarnya jumlah transaksi ekonomi antara Rusia dan negara-negara anggota NATO seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan lain-lain. Transaksi tersebut dalam bentuk ekspor senjata dan komoditas lainnya. Bahkan, Sebelum serangan Rusia pada 2014, investor utama adalah negara-negara NATO. Importir utama dari Rusia adalah negara-negara NATO juga.

Vasyl Hamianin menuturkan bahwa transaksi yang rutin dilakukan merupakan salah satu sumber dana Rusia untuk melakukan invasi. Timbulnya transaksi ini sebenarnya merupakan sebuah dilema tersendiri mengingat adanya konfrontasi antara NATO dan Uni Soviet/Rusia setelah perang dunia kedua. NATO menggambarkan Uni Soviet sebagai sebuah negara yang otoriter, lumbung teroris, dan terisolasi.

Selain itu, Dubes Vasyl Hamianin juga menyampaikan harapannya kepada mahasiswa dan masyarakat Indonesia untuk selalu mendukung perjuangan bangsa Ukraina. Dukungan tersebut bisa disampaikan melalui komentar atau postingan di sosial media yang membahas dukungan untuk Ukraina. “Setiap kata dan aksi apapun yang di posting di Instagram akan sangat berarti bagi kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komentar di sosial media tersebut penting karena propaganda harus dilawan dengan propaganda. Sebagai contoh, Vasyl Hamianin beberapa kali membuat postingan di akun sosial media nya yang memuat tagar #StopRussia sebagai bentuk mengutuk invasi Rusia.

Untuk memperjelas situasi yang saat ini tengah melanda Ukraina, Vasyl Hamianin menyampaikan secara logika negara kecil seperti Singapura tidak akan menjadi ancaman bagi Indonesia. Begitupun dengan Ukraina yang seharusnya tidak akan mengancam eksistensi Rusia.

Sehingga sudah selayaknya lah penduduk dunia mendukung perjuangan negaranya. “Jadilah pintar dan bijaksana untuk melayani negaramu,” tutup Vasyl, Dubes Ukraina untuk Indonesia.

(AST/KKP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.