UMKM Mulai Kembali Bergeliat

PENAPERSATUAN – Minggu pertama bulan Dzulqo’dah sehabis bulan Syawal masuk minggu kedua telah datang. Hujan masih mengguyur selama 3 hari terakhir tiap siang sampai malam hari. Sedari Sabtu-Minggu yang lalu.

Prediksi arus migrasi penduduk sudah berimbang 50% musim, 50 khorijin (safar/orang bepergian/pendatang) mulai pulang. Jalan utama kecamatan mulai berkeliaran, apalagi ini tanggal muda bulan Juni 2022.

Suasana ramai dan kerumunan terbilang biasa saja, karena roda ekonomi mulai berkeliaran. “2 Minggu yang lalu adalah puncak dari sepi mas. Ibara jualan, itu dagang sisa (koredan) ada lah yang beli. Ni jam 21.00.Udah habis dagangan,” kata Soim, penjual martabak.

Dampak pandemi memang terasa, uang sulit dicari dan lonjakan harga sangat berat menghantui pedagang kecil dan eceran. “Kita menjualnya berdasar harga dari grosiran. Beberapa keb pokok sudah naik sejak lama mulai pertamax, minyak goreng, dan memicu kenaikan harga rokok,” kata Kusriyanto pedagang kecil dan eceran. Kini kenaikan harga berbanding dengan kenaikan inflasi bulan ini.

Pedagang keliling, daya beli masih rendah

Naiknya harga kebutuhan pokok tentu membuat omzet perdagangan lesu berputar. “Pokoknya kalau ada modal, arus kas masuk baru bisa belanja lagi. Pedagang kecil seperti kita itu keluar barangnya mudah, masuk nya uang seret buanget,” tambah Kusrin.

Untuk menyiasati agar tetap bisa bertahan, usaha kecil membuka sistem patungan dan utangan. “Modalnya kepercayaan. Sulit lho siapa tahu ada yang butuh tinggal mencatat di warung,” tambah Kusrin.

Harga setiap barang sekarang ada yang naik kisaran 500 s/d 1000 per otomatis. Menghitungnya ditambah dengan kenaikan inflasi itu dari harga distributor untuk transportasi dan upah lelah. Itu mengapa di tingkatan eceran jauh lebih tinggi, namanya ada rante ekonomi.

Lain grosir lain warungan. Kebutuhan sekunder tanaman bunga jelang lebaran  terasa berat. “Ada laba, tapi sedikit yang penting berkah,” kata Warsono pedagang bunga hias, Selasa (7/6). “Usaha apa yang untung, paling bunga bank,” tambahnya menerawang jauh.

Geliat perputaran tanaman bunga hias memang pasang surut, namun untuk orientasi koleksi seperti bunga aglonema, bonsai, mawar dan bunga aromatik harum tetap diminati. “Kami tidak menjual banyak, karena ini untuk koleksi,” pungkas Zainal di Tidu, Bukateja Kab Purbalingga.

Untuk daun agar berubah jadi putih, disiram dengan air cucian beras. Agar daun tanaman mengkilap, penggiat bunga hias ini berbagi trik dengan pupuk dari limbah pisang matang. Nah agar serat daun dan bunga berbatik berwarna perak atau emas, belum ketemu obatnya, yang jelas tidak diukir  atau dilukis.

(Red/Ast/Kkp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.