Daging Sapi Naik Jelang Lebaran, itu Sudah Diprediksi

PENAPERSATUAN – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), memastikan stok sapi siap potong aman hingga lebaran nanti. Ketersediaan pasokan daging dipastikannya surplus, baik daging sapi atau kerbau produksi lokal, sapi bakalan siap potong, maupun daging impor beku.

“Stok kita masih aman hingga nanti Lebaran” kata Yasin Limpo awal April.Bahkan Sapi Brahma dari India dan daging Kerbau India juga sudah datang untuk memenuhi kebutuhan daging.

Namun memasuki pertengahan akhir Ramadhan, situasi berubah cepat. Sejak adanya Ppn 11% dan memicu kenaikan harga di semua kebutuhan pokok dan barang, termasuk daging Sapi.

Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (Jappdi) memprediksi harga daging sapi bakal mengalami kenaikan hingga hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Ketua Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (Jappdi), Asnawi mengatakan, naiknya harga daging sapi di dalam negeri jelang Idul Fitri nanti tergantung seberapa banyak ketersediaan sapi hidup siap potong.

Bahkan, Asnawi memprediksi, lima hari sebelum Lebaran, harganya bisa meroket mencapai Rp 200.000 per kilogram.

“Harga daging sapi diproyeksikan bisa terus naik hingga Lebaran nanti. Menjelang lebaran, H-3 atau H-5 bisa terjadi lonjakan harga lagi. Nggak semua pasar sama. Tapi bisa tembus Rp 200.000 per kilogram,” lanjut Asnawi.

Kelangkaan daging sapi sudah terjadi seminggu terakhir, dibarengi kenaikan harga yang sangat tajam dari 120 ribu-170.000 per /kg. “Di Purbalingga sudah 170.000/kg,” kata Muhajirin, Ketua UMKM Purbalingga.

Mengantisipasi kebutuhan Daging Sapi, UMKM Pribumi Kab Purbalingga pada Sabtu(30/4) membagi daging sapi dengan harga terjangkau. UMKM Pribumi Kabupaten Purbalingga jumlahnya 250 orang lebih. Pemotongan sapi hari ini di Sidanegara, Kaligondang untuk dibagikan pada anggota koperasi dengan sistem iuran,” kata Muhajirin.

Sementara itu, di Tangerang Selatan, Sabtu (30/4) harga daging sudah mencapai 180.000,-. Lonjakan harga daging sapi yang cukup menggiurkan ini membuat ada sebagian oknum pedagang nakal mencampur daging sapi dengan daging babi.

Peredaran daging babi (celeng) berasal dari luar pulau Jawa atau dari hutan itu hasil berburu (Perbakin atau hasil buruan) yang dipasok ke pasar-pasar membuat was-was para pedagang pasar dan pembeli.

Bahkan di Kars Solo beredar daging anjing dari Boyolali. “Iki yang membuat saya pusing.Karena orang protes, tapi tak memberi solusi.” kata Gibran, Walikota Surakarta menanggapi beredarnya ratusan kilo  daging Anjing.

Karenanya Hj Nurul Hidayah Supriyati ,SH MSi, anggota FPPP DPRD I Jawa Tengah asli Purbalingga ini, mengajak para pedagang, Pengawas Ketahanan Pangan, Kepolisian untuk mengawasi benar-benar beredarnya daging babi ke pasar-pasar.

“Sebenarnya pintu masuk pasar-pasar harus diawasi. Jangan sampai kecolongan lagi,” katanya. Hampir setiap hari, penggeledahan beredarnya daging babi di Pelabuhan Bakauheni (Lampung) berhasil menyita 7,1 Kwintal daging celeng. Untuk memastikan daging sapi beneran, Hj Nurul menyarankan pedagang untuk memasok daging dari distributor yang dijamin kehalalannya.

Tidak saja daging Celeng, daging sapi glonggongan juga beredar. Untuk membedakan daging sapi berkualitas segar itu belinya harus pagi benar, dagingnya masih segar, nggak pucat atau hanya kemerah-merahan.

“Saya sembelih sendiri sapinya, jadi saya jamin halal dan daging sapinya bukan sapi glonggongan,” kata H Anif Damanhuri pedagang dan distributor daging Sapi asli Sayangan, di Barat Tugu Knalpot Sayangan, Purbalingga, Jawa Tengah.

“Yen Ragu Lebaran ra usah tuku daging. Tuku Ayam, entog aku Lebaran. Insya Allah ming ngonoh… Di olih-olihi ya ..,” kata Sumiyarso.

Lain lagi pendapat orang jelang lebaran. “Orang pasti sudah disiapkan biaya untuk mudiknya mas jadi kenapa harus bingung dengan kenaikan daging sapi mahal. Ya beli sedikit aja perlu hati-hati. Ganti ayam.gitu aja repot,” kata Andre Darmaji. Wakil Bupati Purbalingga. Sementara H B Sudono menyatakan,”Sing penting barange ana, lan mencukupi.”

Tentu berpuasa di Tahun ini lebih bermakna. Sebagian ada yang anti daging, tentu tak masalah bukan, karena bisa mengganti pasokan energi bukan dari senyawa hewani, namun dari nabati (sayur, telur, ikan). La tahzan….!

(Red/Aji S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.