KH. Ahmad Said Asrori Katib ‘Aam PBNU: Ansor Penjaga Aqidah Diniyah, Nahdliyah, Aswaja dan NKRI

PENAPERSATUAN – Peringatan Harlah Gerakan Pemuda (GP) Ansor ke-88 yang digelar oleh Gerakan Pusat GP Ansor, Minggu ,24 April 2022(20 Ramadhan 1443 H) berlangsung khidmat. Selain dihadiri Ketua Umum GP Ansor, H. Yaqut Cholil Qoumas, yang juga menteri Agama, juga dihadiri Erick Thohir, menteri BUMN.

Tamu undangan yang tampak hadir dalam acara, Sunyoto,Ketua Pemuda Muhammadiyah, Andi Joharuddin, Pengurus Besar PMII, Fatayat, GMKI, KNPI, juga Hasyim Asy’ari, Ketua KPU Pusat.

Ketua Umum GP Ansor dalam sambutannya menyampaikan, Ansor dan Banser, sami’na dengan menjaga dawuh Kyai serta Ulama sebagai bentuk khidmah Diniyah, serta tak kalah penting sebagai garda terdepan untuk menjaga NKRI. Dua tugas besar dipundak Ansor serta barisan Banser ini  menjadi khidmah terbesar untuk merefleksikan puncak peringatan Harlah ke 88 GP Ansor.

H. Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan sambutannya

Sementara Menteri BUMN, Erick Thohir dalam kesempatan tersebut melaunching metaverse, pasar digital Gerakan Pemuda Ansor sebagai salah satu pembangkit kegiatan ekonomi Gerakan Pemuda, khususnya Ansor.

Sebagai penutup acara diisi dengan tausiyah agama oleh KH. Ahmad Said Asrori yang merupakan Katib ‘Aam PBNU, menyampaikan pesan penting tugas Ansor. Selain menjaga khidmah Dinniyah (pendidikan dan pengkaderan), Ansor juga menjaga  akidah nahdliyah, aqidah ahlussunnah, yang rahmatan lil alamin yg menghargai manusia dan kemanusiaan.

“Dengan saling berta’aruf, bekerja sama, mengingat di Indonesia yang ada bermacam agama, suku ras, ini harus ditanamkan di seluruh warga NU. Kita tidak hidup sendiri,” tegas KH. Asrori.

Sambil menguraikan QS. Al Hujurat:13, dirinya menjelaskan tentang nilai pluralisme yang dirasa sesuai dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk plural society.

Dengan mengutip firman Allah: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al- Hujurat:13).

Yang kedua, fikrah nahdliyah. NU selalu mendengungkan bagaimana sikap manusia menyikapi kehidupan ini. “Sehingga warga NU bisa melindungi dan mengayomi tanpa pandang bulu dan Ansor punya harokah (gerakan), sehingga gerakan tersebut bisa berhasil,” tambah Katib ‘Aam PBNU.                

Katib ‘Aam pada kesempatan itu juga membacakan Surat Al-Zalzalah ayat 1-8 tentañg gempa bumi yang dahsyat pada Hari Kiamat. “Saat bumi berguncang dan saat itu bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya. Itulah diantara kejadian pada hari kiamat yang akan kita telaah pada tafsir surat Al Zalzalah kali ini.

Allah Ta’ala berfirman, “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Dalam surat ini, terangnya, Allah mengabarkan apa yang terjadi pada hari kiamat, di mana saat itu bumi bergoncang begitu dahsyatnya dan meruntuhkan segala yang ada di atasnya. Juga akan diterangkan bagaimana setiap amalan baik dan jelek akan menuai balasannya.

“Bumi ini selalu berkembang tentang kejadian, ada apa. ini kita dituntut inovasi-inovasi dan tholabul ilmu untuk mengambil makna dalam kehidupan,” lanjut Katib ‘Aam.

Kejadian-kejadian dan peristiwa, menjadi pelajaran bagi sahabat Ansor. Kedua, hikmah Wathoniyah, menjaga tanah air, Indonesia. Allah SWT memberikan karunia besar kepada kita yang luar biasa.

Oleh karenanya, karunia yang Allah berikan mendidik kita harus bisa menghargai. Sehingga kita bisa menjaga  NKRI. Ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama.

“Ansor ini ada 7 juta maka itu saya sering diundang Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) TNI, Jendral Dudung Abdurrahman. Yang menjaga NKRI ada dua TNI dan NU. Oleh karena itu TNI itu jelas gajianya, sementara NU itu seperti Ketum GP Ansor, hanya mengharap keridhaan Allah,” ujarnya.

“Semoga seluruh pemuda Ansor di hari lebaran nanti bisa pake baju Ansor,” pungkas KH, Asrori berkelakar dan lanjut menutup acara dengan pembacaan untaian doa.

(Red/Ast)

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.