Refleksi 21 Tahun FORKABI,
Catatan Seorang Kader


Assalamualaikum Wr.Wb.

Pada hari ini Senin, 21 tahun yang lalu dideklarasikan suatu wadah berhimpun bagi masyarakat betawi ‘Forum Komunikasi Anak Betawi’ (FORKABI) usia 21 tahun laksana dara gadis yang sedang pandai-pandainya berhias serta pandai menata kata dan kalimat untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya menanjak ‘dewasa’.

alhamdulillah sang gadis pun sudah punya keberanian untuk melepaskan diri dari candu ketergantungan yang meninabobokan, walaupun tercabik-cabik dari seorang yang ‘katanya’ ayah yang bijaksana, peristiwa PTUN terhadap Surat Keputusan Depkumham RI yang dimenangkan oleh kepemimpinan H. Abdul Ghoni dan Purwanto yang dilakukan oleh FORKABI yang dipimpin saudara Iksan dan Mayjen TNI (Purn) H.Nachrowi Ramli, SE.

Adalah bukti, FORKABI telah.melepaskan diri dari sesuatu yang selalu membayang-bayangi dari kedewasaan kemandirian berorganisasi, Allah SWT selalu memberikan jalan untuk mereka mau belajar dan lepas dari candu kenikmatan yang menjerumuskan.

Hari ini FORKABI telah siap untuk bersolek menata diri agar bermanfaat dan dapat memberikan jalan bagi anggota, kader dan pengurus untuk mengangkat harkat martabat. Ini tidak lepas dari proses terjal dan berliku, mari kita lihat 21 tahun yang lalu;

1. FASE PERINTIS
Konflik horizontal yang terjadi di ibukota Jakarta, khususnya antara suku Betawi dengan suku lain, membuat keprihatinan tokoh-tokoh betawi diantaranya (Alm) Babeh H. Husain Sani, Babeh H. Nukman Muhasyim, juga tokoh lainnya.

Karena organisasi kebetawian yang saat itu tidak mampu meredam konflik, kondisi ini membuat konsolidasi dan jalinan emosional terawat dengan baik dimana tokoh-tokoh tersebut terasa menjadi orang tuanya suku Betawi yang dapat mengayomi dan figur ketokohan merata sehingga saling menguatkan terutama bagi anggota dan pengurus yang haus akan bimbingan, terasa suasana kekeluargaannya.

2. FASE GENERASI PENDIRI
Periode ini dimulai pada pasca Musyawarah Besar (Mubes) pertama yang agenda awalnya adalah Musyawarah Kerja yang selanjutnya berdasarkan usulan peserta rapat dan disepakati bersama, diubah menjadi Musyawarah Besar, dengan definitipnya duet Babeh H.Husain Sani dan Babeh H.Nukman Muhasyim, ditambah lagi hadirnya tokoh militer Betawi, Babeh Mayjen H. Nachrowi Ramli.

Konsolidasi organisasi, konsolidasi personal dan konsolidasi program semakin menggeliat. Sehingga menjadi bahan perhatian dan mendapat apresiasi dari masyarakat Betawi dan Jakarta, sehingga terbentuknya struktur se-Jabodetabek serta struktur di tingkat Subran (tingkat RW), dan status AD/ART organisasi dicatatkan dalam Akta Notaris, dimana fase ini disebut fase pendiri.

Karena, permufakatan Mubes inilah sesungguhnya FORKABI didirikan dan dicatatkan dalam Akte Notaris dimana pendirian awal diwakili oleh; Unsur Perintis, Unsur Teritorial/Wilayah, Unsur Tokoh Masyarakat/Pemuda, dan didaftarkanya nama FORKABI ke Depkumham RI yang sebenarnya menyalahi pakem dalam organisasi massa/perkumpulan, yang akhirnya menjadi salah satu sumber konflik internal di kemudian hari, dan terbukti. Karena seharusnya, yang didaftarkan adalah status dan kedudukan organisasi, bukannya nama organisasi

3. FASE KRISIS FIGUR
Pada fase ini dimulai sejak tahun 2015 tepatnya Mubes IV FORKABI, yang menghasilkan terpilihnya Mayjen TNI H. Nachrowi Ramli, SE. sebagai Ketua Majelis Tinggi yang memiliki kekuasaan untuk mengangkat Ketua Umum. Celakanya, Mayjen TNI H. Nachrowi Ramli, SE menunjuk dan menetapkan dirinya sebagai Ketua Umum, dengan alasan extraordinary.

Dengan demikian, terjadi figur sentral kepada seseorang dan hal ini merupakan awal malapetaka bagi sebuah organisasi massa. Karena sudah tidak ada lagi penyeimbang dan pengontrol, terbukti kelimaknya adalah dinonaktifkannya hampir 45 orang tokoh juga kader FORKABI dari jabatannya.

Hal tersebut berdampak adanya gelombang besar perlawan dan runtuhnya dominisasi kekuasaan dan hilangnya kepercayaan dan kehormatan Majelis Tinggi yang seharusnya menjadi lembaga yang dapat mengurai konflik. Hal ini terjadi karena Majelis Tinggi sudah menjadi bagian dari konflik dan masalah itu sendiri.

4. FASE MENYONGSONG FAJAR
Konflik yang menguras energi baik pikiran, tenaga dan finansial akan melahirkan satu fase generasi kristalisasi dari kemunafikan, kaum oportunis (ABS).

Generasi yang optimis mampu menyongsong fajar di bawah nahkoda H. Abdul Ghoni dan Purwanto, walau kita sadari belum adanya kesadaran dan rasa malu yang ada pada kubu penggugat. Bahkan rasa malu itu dipertontonkan dengan suka cita, karena sesungguhnya publik tahu dan paham mana yang berhak Memimpin organisasi FORKABI ini.

Karena secara patsun di mata aktivis dan penggiat, itu adalah bentuk keangkuhan dan arogansi yang dipaksakan untuk menciptakan opini bahwa mereka adalah benar. Mariah para Anggota, Kader dan Pengurus, kita kuatkan barisan. Kita yakin dibawah Komando H. Abdul Ghoni dan Purwanto, ada era yang mampu mewujudkan harkat dan martabat.

Kita berharap mereka dapat berfikir menggunakan akal sehat sehingga dapat membedakan SK DEPKUMHAM RI dan SURAT TANDA DAFTAR DEPDAGRI mungkin mereka perlu ngopi lebih jauh…….

Selamat Ulang Tahun 21 Tahun FORKABI
Wassalamualaikum Wr.Wb
Fajar, 18 April 2022

Tahyudin Aditya’s, Penulis adalah Wakil Ketua Umum DPP FORKABI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.