UMKM Paling Bertahan di Tengah Badai Ekonomi

PENAPERSATUAN – Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop-UKM) bulan Maret 2021, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8.573,89 triliun.

“UMKM mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada, serta dapat menghimpun sampai 60,42 persen dari total investasi di Indonesia,” kata Kusfiardi, Kamis Sore (17/3).

Tentang kesiapan memasuki era digital memang tidak mudah. UMKM yang di bawah 5 juta (omzet) tidak mau tawaran per bank an (anti bank) susah juga nih mau terus begini bergerak di rente ekonomi.

Menurut Kusfiardi, mantan Koordinator Koalisi Anti Utang Indonesia, Digital itu alat bantu, pemasaran. “Kalau hulunya, kegiatan produksi ga ada, ekonomi digital yang dimaksud itu hanya jadi alat jualan produksi orang lain. Ada yg dari China, Korea, Vietnam, Amerika, dst…,”

Maka untuk memperkuat UMKM, kuatkan rantai pasoknya. “Mulai dari hulu sampai hilir. Misal, bibit kedelai, perkebunan kedelai, pupuk, hingga panen kedelai. Lalu diolah lewat produksi jadi produk tahu/tempe dan lainnya yg berbasis bahan baku kedelai,” lanjut Kusfiardi pemerhati masalah politik ekonomi.

Hasil produksi produk berbahan baku kedelai, dipasarkan ke konsumen. “Term digital difungsikan untuk mengoptimalisasi di tiap rantai pasok dan produksi hingga distribusi dan penjualan,” jelas Kusfiardi.

Kusfiardi juga menjelaskan sudah waktunya rakyat bersatu untuk kolaborasi memenuhi kebutuhan sendiri melalui cara kerja kolektif. “Orientasinya memenuhi kebutuhan sendiri dan warga sekitaran…,” lanjut Kusfiardi.   

Gerakan ekonomi semacam ini justru masih berpotensi besar untuk diterapkan di wilayah rural dan juga pedesaan.”Untuk gerakan penguatan UMKM untuk wilayah pedesaan kayaknya masih mungkin bisa jalan,” pungkas Kusfiardi alumnus Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta ini mengakhiri perbincangan.

(Red/Aji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.