LAB Minta Kasatpol PP Arifin Tak Tutup Mata, Trantib Budaya Harus Hadir di JIS

PENAPERSATUAN – Mega proyek Jakarta International Stadium (JIS) mendapat sorotan dari tokoh Betawi, karena dalam pembangunannya tak memasukkan sedikit pun unsur ornamen Betawi.

Pembangunan yang mencapai Rp 4,4 triliun yang diambil dari APBD DKI sudah sepatutnya ada sedikit nuansa kedaerahan yang diikutsertakan dalam pembangunannya.

Hal ini juga sesuai amanah Peraturan Daerah (Perda) nomor 4 tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. “Pada dasarnya kami sebagai warga Betawi sangat bangga dengan adanya stadion JIS ini. Hanya saja, sangat disayangkan tidak adanya ornamen Betawi yang dimasukkan dalam pembangunan tersebut,” ungkap Tahyudin Aditya pada awak media, Rabu, (2/2/2022).

Jakarta Internasional Stadium (Ist)

Semuanya, lanjut Tahyudin Selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) Panglima Laskar Adat Betawi (LAB) yang merupakan badan otonom Bamus Betawi, hanya berciri khas Eropa saja, padahal dalam Perda nomor 4 tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, disebutkan, dalam pembangunan proyek-proyek ya, Pemprov DKI wajib memberikan porsi untuk memasukkan ornamen budaya Betawi.

Dirinya membandingkan dengan proyek renovasi Masjid Istiqlal yang baru saja selesai dikerjakan, dilakukan dengan memasukkan unsur budaya. “Saat ini pun Masjid Istiqlal telah dideklarasikan sebagai Masjid Budaya. Harusnya, Stadion Jis dapat meniru seperti Istiqlal ini dong,” kata Tahyudin yang juga Anggota Lembaga Seni Budaya Muslim (LESBUMI) PWNU DKI Jakarta tersebut.

Kendati kecewa, namun Tahyudin tak ingin menyalahkan siapapun dalam persoalan ini. Ia hanya mengatakan, kendati dalam pembangunan JIS tak menyertakan ornamen Betawi, namun saat ini belum terlambat untuk mengikut sertakan unsur budaya Betawi.

“Saya berharap, salah dalam pengelolaan JIS ke depan. Misalnya dalam hal pengelolaan keamanan dan kebersihan gedung dan bangunan JIS, nantinya bisa bernuansa Betawi,” imbuhnya berharap.

Dirinya mencontohkan, bisa saja nanti petugas keamanan dan kebersihan menggunakan seragam berupa pakaian adat Betawi. Dan juga hal-hal lainnya di sana.

Baru-baru ini, lanjut tokoh Betawi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Forkabi, Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin, mengangkat sebanyak 731 relawan ketertiban dan ketentraman atau trantib. Sayangnya, keberadaan Satpol PP juga tidak pernah dikolaborasikan dengan budaya Betawi.

“Kan bisa saja Kepala Satpol PP DKI itu dalam hal pakaian misalnya, perlu juga dibuatkan seragam Satpol PP yang ada kaitannya dengan pakaian khas Betawi. Pelibatan budaya atau adat, terbukti sukses diterapkan di daerah lain, salah satunya di Bali dengan keberadaan Pecalang-nya,” jelas Tahyudin dengan sedikit nada tinggi.

“Selama ini Satpol PP nyaris tak pernah bersentuhan dengan budaya Betawi. Padahal hal itu sangat penting, karena dalam penegakan Perda, Satpol PP dapat menggunakan pendekatan kebudayaan, agar lebih humanis dan juga santun,” sambungnya. 

Tahyudin juga mengaku sedikit kecewa dengan Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin, yang merupakan putra asli Betawi, namun kurang peduli pada nasib budaya Betawi. Bahkan, belakang ini, Satpol PP merekrut sebanyak 731 relawan masyarakat peduli trantib, namun tak pernah berkomunikasi dengan unsur budaya Betawi sama sama sekali. 

“Padahal, dalam Perda 4 Tahun 2017 tentang Kebudayaan Betawi, disebutkan setiap SKPD dan UKPD wajib mengelaborasikan program-programnya dengan unsur kebudayaan Betawi,” pungkas Tahyudin sedikit menyesal.

(Red/Fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.