Ibu Kota Negara Pindah, Ini Kata Eki Pitung

PENAPERSATUAN – Ibu kota negara akan pindah, sepertinya bukan lagi menjadi wacana. Pasalnya, Rancangan Undang Undang (RUU) Ibu Kota Negara (IKN) sudah diketuk palu oleh DPR dan sah menjadi Undang-undang (UU). Artinya, ibu kota negara resmi akan pindah bukan lagi di Jakarta.

Menyikapi ibu kota yang akan pindah ke Kalimantan Timur tersebut, salah satu tokoh Betawi, Muhammad Rifky atau yang kerap disapa Eki Pitung, merasa tidak yakin UU IKN tersebut bisa berjalan dengan baik. Mungkin, bisa satu sampai dua tahun untuk dapat terwujud pindahnya ibu kota.

“Sulit dipercaya memang pengesahan UU IKN itu, seperti kejar tayang atau terkesan pesanan kepentingan. Disaat situasi bangsa seperti ini, mulai bangkit perlahan pemulihan ekonominya pasca pandemi,” ujar Eki Pitung yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Bamus Betawi.

Menurutnya sangat beraroma politik dan hegemoni kekuasaan. Mungkin, sambung tokoh Betawi yang dekat dengan kalangan ulama juga umaro ini, seperti politik balas budi pada pengembang yang mendukung pada pemilu 2019 lalu.

Eki Pitung (Peci Merah) bersama ulama juga habaib

“Jika memang pindahnya ibu kota negara ini terealisasi dengan cepat, dirinya melihat kehidupan akan berjalan biasa-biasa saja,” terang Eki Pitung yang mengatakan pindahnya ibu kota negara terkesan lebih mementingkan sekelompok orang dibanding dengan masalah kemaslahatan anak bangsa saat ini.

Hanya saja, kata Ketua Umum Braja ini melanjutkan, perlu ada ketegasan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, apa status Jakarta pasca pindahnya Ibu kota negara. Saya tidak melihat UU IKN ini berbicara status Jakarta setelah pindahnya ibu kota.

“Karena tidak disinggung sama sekali dalam UU IKN tersebut. Yang saya maksud, apakah statusnya masih menjadi Daerah Khusus atau sama seperti Provinsi lain?” beber Eki Pitung.

Padahal, sambung sosok Ketua Umum ISBI Jaya ini, kalau mau jujur, bagi masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta, sejak tanah ini dijadikan ibu kota atau daerah kekhususan, sama sekali tidak terlalu signifikan atau bermanfaat langsung pada kaum Betawi.

“Kenapa saya bilang tidak signifikan buat masyarakat Betawi? Kita bisa lihat, baik perlakuan pada budayanya, Sumber Daya Manusianya, atau hak-hak adatnya. Kan tidak ada yang berubah, bahkan cenderung prihatin,” ungkap Eki Pitung.

Masalah nama misalnya, kalau bicara nama Nusantara sebagai nama ibu kota negara, ujar Eki Pitung, sudah seharusnya isi ibu kota negara nanti berbasis tradisional (budaya) jangan sampai malah nantinya menjadi kota generasi jet set atau kota yang kental asing dan aseng nya. Karena, spirit Nusantara adalah Bhineka Tunggal Ika.

“Secara pribadi saya katakan, silahkan saja pindah ibu kota, jika itu keinginan yang sudah menjadi keputusan yang sedang berkuasa hari ini. kami rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berdoa dan berikhtiar. Namanya sedang berkuasa, maunya ya maunya aja. Yang terpenting bukan pindahnya, tapi bertanggung jawab pada apa yang diputuskannya,” pungkas Eki Pitung.

(Fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.