Prospek Koalisi Partai Islam

PENAPERSATUAN – Respon masyarakat cukup baik mumculnya wacana koalisi partai-partai Islam (poros partai Islam) selepas pertemuan PPP dan PKS. Pembentukan poros partai Islam mendapat respon positif dari Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menangkap sinyal baik koalisi di balik pertemuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Yusril menganggap saat ini merupakan momentum bagi partai Islam bersatu membentuk poros tengah jelang konstelasi politik 2024.

Koalisi Poros Partai Islam bukan hal baru di Indonesia. Setelah reformasi melengserkan kekuasaan orde baru, pada Pemilu pertamanya, koalisi partai Islam muncul dengan poros tengahnya melalui koalisi PPP, PKB , PKS , PBB, PKNU,Golkar dan berhasil mendominasi Pemilu dengan Presidennya kala itu Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

Dengan demikian poros paryai Islam tak ada yang salah jika Poros Islam ingin mengulang strategi poros tengah yang pernah ada di Indonesia setelah 20 tahun lebih tenggelam dalam ego masing-masing.

Apabila, ingin mengulang perode keemasan koalisi poros partai Islam seperti tahun 1955  1971 serta poros tengah pada 1999 ada banyak hal yang mesti diingat sebelum poros Islam ini benar-benar terbentuk.

Pertanyaannya sekarang, apakah poros Islam bisa reborn, bisa terbentuk kembali, mungkin saja. Cuma dengan sejumlah catatan.

Ada beberapa hal yang mesti diperbaiki dan diingat oleh partai-partai Islam sebelum benar-benar berkoalisi. Silaturahmi politik partai PPP, PKS dan Golkar serta poros faksi Islam sebagai koalisi jelang 2024 adalah sebuah pijalan strategis. Sebab, jika tak dijalankan koalisi ini tak akan kuat dan kokoh, alih-alih itu justru bisa layu sebelum berkembang.

Pertama berkaitan dengan ego sektoral dari masing-masing partai. Partai-partai yang bergabung harus menyamakan pandangannya. Antara satu dan yang lainnya tak boleh ada yang merasa rendah atau lebih tinggi dari partai lainnya dalam koalisi itu.

Perasaan-perasaan ego sektoral itu harus dihilangkan. Karena itu bisa jadi kendala psikologis yang cukup serius. Apalagi koalisi ini juga adalah gabungan juga koalisi nasionalis-religius, tidak melulu partai Islam.

Selain itu, paham keagamaan di masing-masing partai juga harus diredakan. Sebab pemahaman agama Islam di tiap partai memiliki perbedaan. Ini juga kerap memicu perselisihan.

Perbedaan ini juga kerap terjadi di akar rumput atau para pendukung partai. Baiknya sebelum benar-benar berkoalisi dengan partai di luar PPP, PKS dan Golkar perbedaan-perbedaan ini di simpan di belakang. Mengubur perbedaan masa lalu, mulailah menggagas masa depan untuk menyesaikan tugas besar masalah kebangsaan mulai dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelalangan.

Kemudian hal paling utama dan terutama yakni berkaitan dengan siapa yang akan dijagokan dalam Pilpres. Nama yang akan diusung sangat berpengaruh dalam kuatnya poros Islam plus Golkar akan lebih baik pembicaraan terkait calon presiden yang akan dijagokan di Pilpres 2024 ini tak dibahas dulu sebelum poros Islam ini benar-benar kuat terbentuk.

Karena kalau bicara poros Islam harus setop dulu keinginan di antara mereka yang terlampau ingin jadi capresnya. Karena semua parpol punya jagoan. Akan terlalu banyak calon presiden, karena tiap partai pengusung punya capres masing-masing.

Perebutan tentu tak akan terhindari. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin kegagalan poros Islam dan sudah plus Golkar ini hanya tinggal menunggu waktu.

Hal-hal ini bisa jadi cacatan penting. Yang saya sebut sebagai cacat bawaan sebenarnya. Jadi kekuatan politik islam yang tidak pernah muncul setelah pasca reformasi itu, karena ada cacat bawaan.

Jangan sampai poros Islam layu sebelum berkembang. Belum apa-apa sudah ribut. Karena khawatir sudah mulai bicara siapa yang dijagokan di capres.

Tak ada hal lain yang bisa merusak poros Islam selain di internal koalisi sendiri. Urusan suara bisa tergerus oleh partai-partai nasional, itu urusan kedua. Sebab ketika poros Islam ini kuat, bukan tidak mungkin pendukung justru akan berdatangan. Penulis berharap PAN, PKB, Demokrat bisa memahami dan membaca jejak koalisi PPP, PKS dan Golkar. Apalagi Islam di Indonesia memang masuk dalam agama mayoritas.

Persatuan parpol Islam tujuannya jangan terlampau kentara nuansa politik kekuasaan, tapi harus ada nilai yang dijunjung. Cuma problemnya itu ego sektoral karena sulit menyatukan elit partai Islam ini.

Wacana koalisi poros partai Islam hanya isu basi yang kerap muncul jelang Pemilu dan Pilpres.

Upaya koalisi partai Islam kerap kandas bahkan sebelum dimulai. Partai-partai Islam kerap berseberangan ketika perhelatan pemilu telah dimulai.

Upaya untuk menyatukan partai-partai Islam serta poros lainnya agar tidak sebatas imajinasi, perlu beberapa faktor yang membuat penyatuan partai Islam terealisasi yakni al ikhtilafu minnal rahmah.Salah satunya berkaitan dengan mahzab setiap partai yang cenderung berbeda.

Pluralisme politik dan keagamaan itu soal furu’iyah(cabang) , bukan masalah ushul (pokok). Bahkan di bumi Indonesia tempat kita berteduh dan bernaung disatukan oleh Garuda Pancasila, Berbhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu jua).

Perbedaan kepentingan politik praktis yang berorientasi kekuasaan juga lebih dominan dibanding kepentingan penyatuan ideologi politik islam ke dalam satu koalisi bisa diminalisir dengan tidak menonjolkan kepentingan kelompok namun dengan mendahulukan tujuan dan target bersama sesuai tujuan arah politik kebangsaan yang sesuai dengan pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Kekurangan partai Islam yang cenderung puritan, enggan merespon serius wacana penyatuan partai-partai Islam dalam satu koalisi harus diubah mainsetnya menjadi wajah modernis, milenial, kekinian serta responsif dengan jaman tanpa meninggalkan tradisi lama yang baik.

Hal ini untuk mengantisipasi munculnya kecurigaan wacana koalisi hanya untuk kepentingan pragmatis, kepentingan jangka pendek sekadar untuk tawar menawar posisi (bargaining position).

Selain faktor internal koalisi yang memberi pengaruh banyak dalam penyatuan partai islam, partai dengan haluan ideologi nasionalis juga patut diwaspadai.

Apalagi dari sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia, belum pernah ada partai islam yang tampil sebagai pemenang pemilu secara nasional.

Terlepas dari persoalan tersebut, kekuatan partai Islam masih jauh dibanding dengan partai-partai yang berhaluan nasionalis. Persatuan adalah kata kunci untuk menyatukan berbagai kepentingan dan perbedaan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Penulis: Aji Setiawan,ST mantan aktivis reformasi Mei 1998

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.