PPP Minta Tinjau Ulang Beras Impor

PENAPERSATUAN – Rencana pemerintah untuk impor beras dibuka 1 Juni 2021, menurut Ahmad Baidowi tidak masuk akal, karena stok beras nasional masih tersedia 6 juta ton.

“Kebutuhan beras nasional 25 juta ton, Tersedia 26 juta ton. Berarti bulog masih ada 1 juta ton,” kata Achmad Baidowi anggota FPPP DPR RI.

Awiek menambahkan, Bulog mestinya menjadi lembaga ketahanan dan pengama  pangan nasional.

Gerakan menolak beras impor juga datang dari Ngainiricard, Anggota FPPP DPRD I Jawa Tengah dan Agus Hamim, Anggota DPRD II Kebumen,”Beras impor membuat, harga jatuh di tingkatan petani Bulog, jangan cari untung dari celah anjloknya harga beras,” sambungnya.

Ketersediaan beras di Pulau Jawa masih cukup banyak. KH Said Agil Siradj menyatakan lumbung-lumbung beras masih cukup untuk stok nasional. “Karawang 1 juta ton, belum lagi daerah sentra beras di Jawa Barat seperti Cianjur, Sukabumi masih surplus beras,” ujar Ketua PBNU tersebut.

Dari pantauan data sementara Jawa Tengah urus 5juta ton, Palembang 200.000 ton.

Sementara Aji Setiawan, Wakil Sekretaris  DPC PPP Purbalingga mengatakan, beras impor dari produk pertanian tertentu akibat pakta perdagangan bebas seperti beras briyani, basmati yang untuk nasi kebuli mungkin masih impor.

“Tapi itu untuk konsumen warga keturunan Timur Tengah yang ada di Indonesia, Impornya dibatasi. Bukan untuk menutup kekurangan beras nasional karena itu akan menyengsarakan petani,” tandas Aji.

Ditambahkan oleh Aji Setiawan, nasi kebuli bisa juga pakai beras IR-64, Gaga dan Rojo Lele.

Salah seorang petani asal Cipawon, Wahyono juga angkat bicara, beras Briyani di pedaganv toko Arab Rp. 15000 per kilo, IR 12000  HET, beras lokal Rp 8400. Petani di daerah sekarang enggan jual gabah, karena hanya Rp 430.000,-per kwintal.

“Hasil panen memang tidak menggembirakan. Panen tahun ini akan kami makan sendiri. Untuk pendapatan lain kami andalkan argokultura buah seperti durian, jeruk, pisang, jambu citra serta produk palawija unggulan.”

“Harga gabah yang anjlok, kasihan petani. Inginnya sih perkilo setara dolar,” tandas Warsono, petani kelompok Ababil dari Purbalingga.

(AJ Setia/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.