Sulitnya Medan juga Transportasi, Tak Menghilangkan Semangat Membesarkan PPP di Papua

Papua, Pena Persatuan – Persoalan mayoritas minoritas di Papua masih sangat terasa mengingat banyaknya lokasi yang sulit dijangkau untuk pengurus mensosialisasikan PPP. Menurut Ketua DPC Kabupaten Puncak Jaya Yustus Wonda, S.Sos. M.Si, kalau bicara di Kota juga Propinsi PPP itu banyak, tapi untuk yang tinggal di gunung-gunung, selain sulit dijangkau mayoritas dari penduduknya juga non muslim.

“Hampir diseringnya kita melakukan sosialisasi, kita selalu menyampaikan bahwasanya PPP ini adalah partai pemersatu. Lewat PPP kita bisa belajar politik, melakukan pembinaan atau kaderisasi. Makanya saya selalu mengutarakan kalau PPP ini adalah teempat anak-anak muda kita belajar politik, lewat PPP pula nanti kita dapat mengorbitkan mereka,” cerita Ketua DPC ini.

Untuk meningkatkan suara PPP sendiri di tanah Papua, menurutnya karena masih sangat banyaknya daerah-daerah minoritas di Papua, maka yang diinginkan olehnya adalah bagaimana PPP lewat mentrinya dapat fokus pada pembangunan rumah rakyat.

“Itu sangat penting untuk masyarakat Papua saat ini. Atau bagaimana caranya PPP juga dapat menyiapkan balai-balai adat sesuai dengan suku adat yang ada di sini. Kita bangun balai adat itu untuk tempat-tempat pertemuan khusus. Dengan demikian kita dapat mendata sekaligus mensosialisasikan PPP pada mereka,” sambungnya.

Selain masalah pembanguna rumah rakyat juga balai adat, yang tak kalah pentingnya menurut Ketua DPC ini adalah, membuka lapangan terbang untuk pesawat-pesawat kecil. Memurutnya, pendekatan seperti itulah yang harus PPP lakukan di Papua.

“Kalau kita bicara tinggi-tinggi, hanya program itu tidak bisa. Apa yang kita lakukan jangan lagi hanya sampai wacana program, tapi apa yang kita lakukan harus nyata. Karena memang banyak sekali yang dibutuhkan masyarakat Papua saat ini, dan saya berharap DPP PPP dapat kerja nyata,” terangnya.

Sebagai putra daerah yang mengenal betul peta politik diwilayahnya, Yustus Wonda berharap, DPP bisa mengundangnya. Untuk membicarakan masalah di Papua sesuai dengan adat budaya dan kebutuhan masyarakat Papua itu sendiri, jadi program-program kita bisa langsung didengar oleh DPP dan bisa langsung DPP ajukan kementrinya.

“Adat kita antara Papua pesisir dengan Papua yang di gunung itu beda. Kalau kita bisa ketemu dengan pengurus DPP tentu kita bisa mendata apa yang diperlukan masyarakat Papua peseisir apa juga yang diperlukan masyarakat Papua yang tinggal gunung itu.  Nanti kita pilah-pilah apa yang harus PPP lakukan dan dengan cara bantuan seperti apa. Karena disitu tidak bisa kita samakan,” beber Ketua DPC ini.

Untuk target ke depan, Ketua DPC ini mengatakan, ingin Papua ini bisa meraih 2 kursi untuk DPR RI. Sementara untuk tingkat Propinsi/Kota masing-masing pengurus atau kader yang mencalonkan harus benar-benar melakukan kerja keras.Harus mau berjuang dimasing-masing dapilnya.

“Di papua ini ada 8 dapil. Harapan saya di 8 dapil itu tiap dapilnya ada perwakilan dari PPP. Target kita dapat 8 sampai 9 kursi untuk di Propinsi, kalau bisa paling tidak kader PPP bisa duduk sebagai Ketua DPRD,” ujarnya sedikit tetawa.

Masalahnya, jelas Ketua DPC ini, untuk para calon di Papua ini dalam mensosialisasikan dirinya juga PPP butuh financial yang tidak sedikit. Sementara untuk dapat simpati dan suara itu financial itu sangat penting.

“Masyarakat kita disini tidak seperti masyarakat yang ada di Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan pulau lainnya. Di Papua ini, kalau kita mau pergi dari Kabupaten ke Distrik itu harus naik pesawat. Dari Distrik ke Desa juga naik pesawat, bukan lagi jalan darat. Itu yang membuat financial di Papua ini sangat penting,” terangnya.

Karena kondisi yang sulit tersebut, ada beberapa Kabupaten yang memang sulit untuk dijangkau. “Perlu financial yang tidak sedikit untuk kita dapat mensosialisasikan PPP pada masyarakat yang ada di Papua ini,” pungkasnya.

(Sobari/Diel) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.