Kontribusi Besar NU untuk Indonesia Menurut Sekjen PPP

Pena Perasatuan – Hari lahir organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) yang ke 95 disambut optimis Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sekretaris Jenderal PPP Arwani Thomafi menyebut, selama hampir 100 tahun NU banyak memberi kontribusi besar untuk Indonesia.

Setiap zaman memiliki permasalahan masing-masing. Kata Arwani, dari berbagai peran NU dalam beragam penggalan sejarah bangsa, benang merah yang dapat ditarik adalah mengenai komitmen NU terhadap keislaman dan keindonesiaan yang harus selalu dikontektualisasi seiring perubahan zaman.

Menurut Arwani, langkah yang harus segera dirumuskan yaitu identifikasi persoalan dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Tujuannya, agar arah perjuangan menjadi lebih fokus dan tidak salah sasaran.

“Tantangan kebangsaan semakin kompleks di tengah fenomena post truth dan populisme yang melanda di dunia global, tak terkecuali di Indonesia perlu dicermati dengan seksama. Poin ini menjadi tantangan serius baik bagi negara maupun kelompok masyarakat sipil, tak terkecuali NU untuk memastikan jalinan dan rekatan kebangsaan tetap terkonsolidasi dengan baik,” ungkapnya.

Fenomena tersebut juga terjadi pada cara memahami dan praktik agama. Maka polarisasi di tengah masyarakat dengan latar agama pun menjadi persoalan tersendiri. “Di sini lah peran NU dan ormas-ormas keagamaan lain memiliki signifikansi”, kata Arwani.

Kondisi itu masih ditambah dengan kompleksitas akibat pandemi Covid-19, yang menurut Klaus Schwab dan Thierry Malleret (2020), mengubah sedikitnya lima sektor penting di tengah publik. Kelima sektor itu adalah economic resetsocietal resetgeopolitical resetenviromental reset, dan technological reset.

“Atas dasar tersebut, identifikasi persoalan yang saat ini perlu menjadi perhatian NU dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yakni pertama, memastikan agama menjadi bagian solusi atas persoalan kebangsaan di Indonesia. Spirit beragama menjadi energi penting dalam menyelesaikan ragam persoalan kebangsaan. Karena itu, upaya mempertentangkan agama dan negara tak lagi relevan dimunculkan,” ujar Arwani.

Dengan begitu, ancaman akan paham keagamaan yang tak sesuai dengan prinsip universal tak lagi muncul.

 “Terlebih, keberadaan paham Ahlusunnah wal jama’ah yang dianut NU memiliki relevansi untuk menghadirkan beragama yang memegang prinsip tasamuh, tawazun dan ta’adul. Beragama yang berada di tengah, tidak ke kanan dan tidak pula ke kiri,” katanya.

Arwani menambahkan, persoalan sosial-ekonomi mencakup ketersediaan akses lapangan kerja, akses pangan, akses pendidikan, akses kesehatan, dan akses lingkungan sehat menjadi agenda untuk diselesaikan bersama. Tak hanya oleh negara, namun juga kalangan masyarakat sipil seperti NU dengan jejaring dan sumber daya yang dimiliki.

Dipaparkan, hal itu sangat mungkin dilakukan NU yang mempunyai Sumber Daya Manusia di berbagai sektor ruang publik. Lima tahun jelang menginjak usia 100 tahun, kemampuan adaptasi para kiai dan ulama NU terhadap perkembangan zaman membuat NU dapat menampilkan wajah segar yang kuat memegang tradisi.

“Sumber daya manusia yang dimiliki NU ini merupakan “bonus demografi” yang dimiliki NU dalam menyongsong 1 abad NU lima tahun mendatang. Maka, tak ada kata lain selain NU sangat optimis dalam menyongsong usia 1 abad. Dalam konteks ini, panggilan sejarah NU dalam keislaman dan keindonesiaan yang dimulai sejak lahirnya 95 tahun silam hingga saat ini tak lekang oleh waktu. Selamat harlah ke-95 NU, semoga Allah meridhoi setiap perjuangan dan ikhtiar,” pungkas Arwani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.