Islamophobia ala Denny Siregar

Pena Persatuan – Pegiat media sosial yang juga buzzer ‘garis keras’ rezim, Denny Siregar kembali menunjukkan sikap rasis dan intolerannya. Kali ini Denny nyinyir dan menuduh film Animasi Anak Islam ‘Nusa dan Rara’. Sikap tidak pancasilais Denny ditunjukkan melalui cuitannya di akun twitter miliknya.

Denny menuding film animasi garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko itu diintervensi oleh Ustaz Felix Siauw. Denny juga menuding, film tersebut sebagai film propaganda Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dia berdalih, film Nusa dan Rara tidak menunjukkan keberagaman. Menurut Denny, Islam ditampilkan dalam film tersebut dalam budaya Arab karena pakaian Nussa adalah gamis dan celana.

Menurut budayawan Islam Tiar Anwar Bachtiar bahwa tuduhan Denny tersebut salah alamat. Ia mengatakan film animasi ‘Nusa dan Rara’ tidak mengajarkan keberagaman karena tema yang dibuat dalam animasi Nusa Rara jelas pendidikan agama Islam bagi anak-anak. Sehingga, animasi itu pasti akan memperlihatkan simbol-simbol Islam.

“Ya memang bukan itu tujuan dari animasi itu. Film animasi Nusa Rara isinya baik. Bahwa dia tidak mengajarkan keberagaman itu harus dilihat dulu itu animasi tema apa,” kata Tiar kepada Media, Selasa (12/1)

Tiar menegaskan, tidak ada kesalahan sama sekali dari film Nusa dan Rara. Pasalnya, film atau animasi merupakan simbolisasi atau dunia simbol budaya, gagasan dan sebagainya. Karena itu, Nussa yang disimbolkan memakai pakaian gamis adalah suatu pesan bahwa Nusa dan Rara adalah seorang Muslim, dilihat dari simbolnya.

Ada film animasi lain yang menggunakan simbol agama, seperti film ‘Little Khrisna’ yang juga sukses di Indonesia. Tiar mengatakan, ‘Little Khrisna’ yang menggunakan simbol-simbol agama Hindu tentu bertujuan untuk merepresentasikan budaya dari orang-orang Hindu. Film tersebut pun tidak masalah ketika ditonton oleh anak-anak Muslim.

“Misalnya anak-anak kita nonton Little Khrisna kan tidak ujug-ujug mereka berubah jadi Hindu atau berkultur India, tidak demikian. Begitu pun Nusa Rara, ada pengaruhnya pada budaya, tetapi tidak akan sepenuhnya mengubah orang-orang,” lanjutnya.

Tiar lantas menyebut tudingan Denny itu sebagai bentuk fobia dan sesuatu yang berlebihan, yang menciptakan pandangan seperti menakuti terhadap film Nusa dan Rara.  

Rupanya Denny Siregar dan orang-orang sejenisnya itu Cuma manusia slogan saja. Denny yang kerap berteriak ‘paling pancasilais’ ternyata terbalik antara ucapan dengan sikap dan tindakannya yang selalu rasis dan intoleran terhadap sesuatu yang dia tidak suka. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.