Kunci Mengembalikan Kejayaan PPP adalah Bersikap Jujur, Objektif, dan Dingin

PENAPERSATUAN – Merebut kembali kejayaan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus dimulai dari mana? Itu pertanyaan mendasar yang menarik karena melihat perolehan suara PPP yang terus menurun di setiap pemilu. Bahkan, saat ini, banyak pihak yang berpendapat bahwa kondisi PPP sudah berada ‘di ujung tanduk’.

Menurut pengamat politik yang kini menjadi konsultan politik PPP, Eep Saefulloh Fatah, untuk merebut kembali kejayaan PPP harus kita mulai dengan bersikap jujur, objektif, dan dingin dalam merumuskan anatomi masalah PPP. Bila kita tidak mampu melakukan tiga syarat minimal dalam menganalisa masalah anatomi PPP itu tentu sulit untuk kita mencoba merebut kembali kejayaan PPP.

“Perumusan masalah yang jujur, objektif, dan dingin itu harus dan amat krusial menurut saya. Ketika Pemilu 2024 masih cukup jauh, kita memiliki waktu yang cukup untuk merumuskan masalah sendiri secara jujur, objektif, dan dingin. Itu syarat pertama. Baru setelah itu yang lain. Yang lain itu misalnya kita harus merumuskan langkah-langkah kerja,” urai Eep Saefulloh Fatah.

Bersikap jujur, masih kata Eep Saefulloh Fatah, tentu persepsinya amat jauh berbeda dengan persepsi para senior PPP yang amat sangat paham detail anatomi PPP di dalam. Beda dengan orang yang melihat dari luar. Namun, orang yang melihat dari luar itu biasanya lebih memiliki ketajaman dan obyektivitas yang tinggi.

“Menurut pengamatan saya selama ini, umumnya persoalan partai di masa reformasi ini adalah krisis otentisitas para pemimpinnya. Dan menurut saya ini adalah anatomi masalah yang harus menjadi perhatian serius. Otentisitas itu berkaitan dengan ketika dia mengatakan kami bersikap adil maka dia sendiri harus adil,” kata Eep Saefulloh Fatah.

Masih kata Eep Saefulloh Fatah, jadi jika dia selaku pemimpin partai berkata mari kita bersihkan pemerintahan Indonesia dari para koruptor. Mari kita bersihkan Indonesia dari perilaku KKN. Maka dia sendiri harus anti terhadap perbuatan korup dan KKN.

“Itulah otentisitas. Ketika dia ingin mengatakan, lihatlah Islam yang rahmatan lil alamin, maka dia sendiri harus mampu menunjukkan perilaku yang rahmatan lil alamin. Kalau kemudian otentisitas itu tidak melekat pada sosok sang pemimpin maka diakui atau tidak agak berat untuk mengembalikan kejayaan PPP di masa datang,” tegas Eep Saefulloh Fatah.

Menurut Eep Saefulloh Fatah, belum lama pihaknya mengadakan survey nasional bersama PPP, dan salah satu hasil dari  dari survey misalnya, keteladanan calon anggota legislativ dalam perilaku sehari-hari amat sangat menentukan.

“Ternyata di Indonesia, perilaku yang baik dari seorang pemimin, itu masih menjadi ukuran. Jadi kalau kemudian PPP abai dengan realitas ini, maka menurut saya akan menjadi persoalan serius. Krisis kepercayaan terhadap partai akan tumbuh dan berkembang,” imbuh Eep Saefulloh Fatah.

Muktamar IX nanti, menurut Eep Saefulloh Fatah, harus melahirkan sikap politik PPP. Dan apabila suatu ketika politik itu dilanggar, maka PPP harus melawannya. Siapa pun yang melanggar politik PPP itu. Tidak peduli, misalnya dia itu presiden, wakil presiden, dan pemerintahan secara umum.

“Jika ada yang melanggar maka PPP harus melawan. PPP harus berani mengatakan kami tidak sejalan dengan itu. Atau, kami sekarang bersebrangan dengan Anda karena perbedaan pandangan politik,” kata Eep Saefulloh Fatah penuh tekanan.

Jadi Muktamar IX PPP mendatang itu, masih kata Eep Saefulloh Fatah, harus merefleksikan politik PPP yang tegas dan itulah yang menjadi koridor. Sehingga masyarakat tahu bahwa PPP itu punya posisi yang jelas. Kalau itu tidak ditegaskan maka dikuatirkan diplomasi politik yang canggih nanti akan membuat PPP gagap.

“Hal lain yang harus menjadi perhatian serius adalah krisis kapabiltas organisasi partai. Organisasi partai yang terpenting itu bukan hanya ada di Jakarta, tetapi di dekat rumah-rumah pemilih. Survey nasional kami berkali-kali beberapa tahun terakhir, termasuk survey terakhir kami dengan PPP beberapa waktu lalu, itu menegaskan bahwa semakin lama keputusan menentukan pilihan semakin terlokalisir pada lokasi yang sangat improv,” jelas Eep Saefulloh Fatah.

Jadi dalam bahasa sederhana, tambah Eep Saefulloh Fatah, adalah mendekatkan organisasi PPP ke rumah-rumah penduduk atau pemilih. Ini untuk menjawab dari persoalan adanya krisisis kapabiltas.

“Bahasa sederhananya adalah partai ini kurang kader. Devisit kader. Kalau pun ada kader, kader yang kurang aktif. Kalau pun ada kader yang aktif, belum tentu dia memahami kerja politik yang baik. Belum tentu mampu menjadi kader yang political marketer,” kata pengamat politik yang murah senyum itu.

 Kader aktif tapi belum mampu menjadi kader yang political marketer , menurut Eep Saefulloh Fatah, mereka itu berkeliling tapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka sampaikan. 

“Bagaimana sebagai kader mereka harus memberikan persepsi yang benar, bagaimana mempersuasi yang benar. Bagaimana membela kebijakan partainya. Bila itu sudah mampu mereka lakukan, maka mereka sudah kader yang political marketer. Kalau belum mampu, ya namanya kader saja. Meskipun dia kader yang aktif” jelas Eep Saefulloh Fatah.

Masih kata Eep Saefulloh Fatah, maka dari itu menjadi tugas partai untuk menggiring kader yang kurang aktif menjadi kader yang aktif. Dan, kader yang aktif menjadi political marketer yang baik untuk PPP. Jika ini bisa dijalankan dengan baik, insya Allah, pada Pemilu 2024 nanti PPP akan mengalamiu kenaikan dalam perolehan suaranya. (Sobari/Jamiel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.